Sabtu, 24 Juni 2017

ANGREK BULAN DAN KENANGAN TENTANGMU, YO

Anggrek Bulan Ungu dan Mimpi-mimpi Kita Dulu .... Yo

....
Kalian takkan pernah tahu bahwa luka yang ditorehkan Yo itu membuatku punya mimpi besar. Sebuah mimpi dari seorang perempuan yang meyakini bahwa menjadi perempuan kedua, ketiga, bahkan ke empat alias menjadi istri muda itu bukan sebuah kesalahan apalagi dosa.
Andai saja Yo tahu, bila perasaan cinta dan harapan masa depan bahagia dalam mahligai rumah tangga adalah sebuah ladang dengan tanaman yang selalu dirawat pemiliknya, ia telah membuat ladangku sekarat. Ya, ketika istrinya mendamprat ibuku dan Yo mengaminkan perintahnya untuk meninggalkanku, hari itu seluruh tanaman yang disemaikannya di ladangku ia cabut beserta akar-akarnya. Sikapnya yang tak bertanggung jawab, tanpa mengucap maaf sedikit pun, begitu saja meninggalkanku seolah-olah ia menggelontorkan berjuta-juta galon insektisida di ladang bunga yang ia taburi benih, ia semaikan, lalu ia rawat selama ini. Teracuni semua zat hara di ladangku. Ya, ladangku, hatiku, tempat seharusnya cinta bersemai, bertumbuh, berkembang, berbunga, dan berbuah itu telah lama mati. Setiap butir cinta yang coba kusemaikan di sana selalu mati meski lelaki yang silih berganti menawarkan rasa cinta itu menyiraminya dengan kasih sayang dan perhatian melebihi yang kubutuhkan.
Adakah para lelaki mengerti bahwa ketika mereka melukai hati seorang perempuan, sesungguhnya ia telah mematikan ladang cinta seorang anak manusia?
Sejatinya, telah lama kuputuskan untuk melupakan Yo. Otak warasku jelas-jelas menyadari bahwa Yo bukan lelaki yang layak kurindukan apalagi kujadikan imam dalam kehidupan. Ia tak layak untuk mendapat predikat terhormat itu di hatiku. Kini, aku tak segan dan tak malu mengaku pada dunia bahwa aku sedang berburu seorang perwira.
Ya, seorang Jenderal di negeri ini telah membuat mata hatiku begitu terpesona dengan pidato dan pandangan-pandangannya tentang cinta tanah air. Sebuah temuan yang barangkali tak pernah kuniatkan karena dalam hidupku yang namanya tentara atau polisi itu bukanlah sosok yang menawan. Alih-alih membuatku merasa aman di sampingnya, membayangkan tubuh mereka yang gagah dan sorot mata mereka yang tajam, aku selalu gemetar. Laki-laki dengan dua profesi itu membuatku yang bertubuh mungil ketakutan. Alasannya? Ya tak ada alasan. Takut saja. Seperti alasanku memuja Yo tanpa tepian sedang dia jelas-jelas telah menyakiti hatiku. Tapi, pidato Sang Jenderal membuat hatiku terpesona. Ternyata, seorang tentara mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsanya. Bagi mereka, keselamatan dan keutuhan bangsa di atas segalanya. Dari situlah aku secara intens mencoba mencari informasi bagaimana sejatinya hidup dan kehidupan para serdadu itu?
Hasilnya, aku jatuh cinta pada kesetiaan mereka pada bangsanya. Mereka yang bersungguh-sungguh menjalani kehidupan sebagai seorang tentara, pastilah ksatria sesungguhnya. Benarlah kata-kata dalam meme yang banyak bertebaran di media sosial, tanah airnya saja ia jaga, apalagi hatimu. Hem ... kesetiaan dan pengorbanan mereka pada bangsanya sungguh sebuah pribadi yang memesona.
Berburu Perwira

Di usiaku yang ke 29 tahun, memang agak sulit untuk mendapatkan seorang pendamping seusiaku. Rata-rata lelaki di bawah 30 tahun akan memilih gadis yang berusia 20 - 25 tahun yang masih muda dan cantik. Namun, bukan karena alasan iitu kalau aku memilih mencari seorang Perwira Menengah. Dalam pikiranku, para Pamen itu pastilah sudah berusia 40 tahun ke atas. usia yang cukup matang yang biasanya pun selaras dengan kedudukan dan penghasilan yang menjanjikan juga. Tentu saja, mengharapkan Pamen seperti ini yang masih bujangan seperti mencari jarum di antara butiran beras, bukan tumpukan jerami. Karena, bisa jadi aku bisa menemukan duda di antara mereka. Namun, sungguh, kalau tak dapat kutemukan Pamen bujangan atau duda, selama aku benar-benar yakin dia pria yang dapat membahagiakan dunia akhiratku, tak apa bagiku menjadi yang kedua, bahkan ketiga atau ke empat dalam kehidupannya. Asalkan, ia menikahiku syah secara agama. Tak peduli meski aku hanya menjadi istri syirrinya.
Kalian boleh mengecapku sakit atau gila. Aku takkan pernah peduli. Ini soal pilihan. Aku hanya ingin bahagia dan membuktikan pada dunia bahwa menjadi yang kedua, ketiga, atau ke empat pun bisa bahagia tanpa harus menyakiti yang pertama. Bagaimana mungkin? Tak perlu kau tanyakan caranya atau kemungkinannya. Bukankah untuk membuat sesuatu yang tidak mungkin atau impossible itu gampang sekali. CEO-ku bahkan pernah menyampaikan caranya, Ïnjak saja huruf IM, habis urusan. Segala yang impossible menjadi possible.
untuk setiap kegilaanku kini
semua karena Yo
dia yang salah, dia yang berdosa
maka, jangan kalian caci maki aku
Dua hari lalu, hampir saja kupastikan untuk meletakkan sosok seorang Pamen di hatiku. Ia yang kukenal saat sama-sama terdampar di bandara gara-gara delay itu seorang letnan kolonel Angkatan Laut. Gagah? Pastilah. Hitam? Tidak. Kali ini aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dan berkenalan dengan Pamen berkulit bersih. Mungkin bila ia bukan seorang tentara, warna kulitnya pasti lebih terang dari kulitku. Sorot matanya tajam? Pasti. Tapi sorot mata tajam itu tak menyiratkan kekejaman, sebaliknya ia menandai kecerdasan pemiliknya. Tak hanya itu, cara memandangku pun teduh dan menjanjikan kedamaian. Tak ada kegenitan dalam pendar matanya. Bibirnya? Gusti, bibir itu tak menandakan kekerasan hati apalagi kesombongan. Bibir yang jelas-jelas terbebas dari rokok itu begitu ringan untuk tersenyum. Tawanya yang renyah terlalu sulit kulupakan. Ketika ia bicara, suaranya berat, tetapi tegas dan berwibawa. Ah... Aku sungguh jatuh cinta pada pandangan pertama. Lebih tepat, saat mendengar suara beratnya untuk pertama kalinya.
"Saya Tyo," katanya sambil mengulurkan tangan.
"Saya... Ehm.. Saya Reysa. "
"Delay selalu membuat kita semua dirugikan. Tetapi marah-marah tidak akan mengubah keadaan, " katanya sambil menempati kursi tepat di depanku.
Aku cuma mengangguk.
.........
Lima bulan aku dekat dengan Tyo. Pamen berusia 45 tahun itu benar-benar mampu membuatku terpesona. Sayang kedekatan kami lebih banyak kami lakukan melalui WA dan telepon. Hanya tiga kali kami bertemu, itu pun singkat dan seolah-olah ia lakukan dengan sangat tergesa-gesa, seperti seorang prajurit mencuri waktu untuk menemui kekasihnya. Eh, bukannya memang seperti itu?
Seperti minggu kemarin, Tyo berjanji menemuiku. Aku memang memintanya mengantarku belanja oleh-oleh buat Kang Adjar dan istrinya. Meski sudah tiga tahun tinggal di Jakarta tapi aku nyaris tak paham tempat-tempat belanja. Tyo setuju untuk mengantarku.
Seharian itu nyaris setiap detik kurapal doa-doa yang kubisa. Aku berdoa agar hari ini Tyo bisa memenuhi janjinya. Ingin sekali aku memohon pada Tuhan agar mewujudkan pertemuan itu. Namun, di sisi lain aku tahu semua ini tak benar. Tyo lelaki orang. Dia seorang perwira yang punya jabatan cukup terhormat di kantornya. Terlalu berisiko. Dosa. Mempertaruhkan kehormatan dan jabatan Tyo. Tetapi egoku, keinginanku untuk bertemu dan menatap wajahnya yang tampan, tatapan matanya ..., suaranya, dan semua yang ada pada dirinya membuatku kehilangan kewarasan. Aku tahu, bila hubungan ini berlanjut, bakal ada hati yang terluka. Namun, bukankah aku bahagia? Ataukah memang selamanya aku tak boleh merasa bahagia?
Hingga malam Tyo belum juga datang. HP-nya tak dapat kuhubungi. Sepertinya yang sudah-sudah, janjimu menemuiku tak terbukti. Jam 19.00 tepat saat aku sudah benar-benar siap bepergian dan berdandan secantik mungkin, HP ku berdering. Bukan panggilan, hanya sebuah pesan masuk. Benar, dari Tyo. Pesannya singkat.

"Maafkan aku, Jeng. Mamanya anak-anak minta diantar belanja."

Seperti biasa, aku pun tak pernah memprotesnya. Namun, seperti yang sudah-sudah, lagi-lagi janjinya untuk menemuiku tak bisa ia tepati. Entah untuk yang ke berapa kali. Herannya, aku pun seperti biasa, selalu memercayainya. Selalu memaafkannya. Aku sadar dan tahu posisiku.
Doaku cuma satu, semoga ia bersegera menikahiku, meski hanya menikah syirri. Aku tak peduli meski kelak statusku tak dilindungi hukum negara. Cukuplah hukum Allah yang akan melindungiku. Agar halal rindu ini, agar ..
Adzan isya menggema dari masjid sebelah rumah.
"Astaghfirullahal adhiem," pelan kutuntun hatiku beristighfar karena terlalu berpanjang angan-angan.
........
Pulang
Pagi, ini, H-4 lebaran, kuputuskan untuk mudik, setelah 3 lebaran aku tak pulang. Pengkhianatan Yo atas janjinya sendiri untuk menikahiku secara sirri, 3 tahun lalu itu, membawa langkah kakiku ke ibu kota hingga kini. Yo, istrinya, bahkan dunia boleh saja mengatakan aku kalah dan terluka karena cinta. Katakanlah, bahkan kalian boleh mengumumkan pada seluruh dunia bahwa aku perempuan yang kalah dan terluka karena cinta.
Bandara 3 Soekarno Hatta seperti juga Bandara 1 dan 2 selalu membuat hatiku terasa hangat. Ada banyak anggrek ditanam di berbagai sudut dan hampir di sepanjang lorong bandara. Yang membuatku selalu merasa di awan adalah warna anggrek bulannya, putih dan ungu. Dua warna anggrek bulan kesayanganku. Paduan anggrek putih dan ungu selalu menghadirkan kehangatan tersendiri di hatiku.
Dulu, ketika aku masih sering berkunjung ke rumah tinggal Yo di perkebunan, aku suka sekali menatap anggrek putih dan ungu yang ditanam Yo di pinggir kolam. Kolam ikan yang terletak persis di depan ruang makan dan terpisahkan oleh kaca bening itu selalu membuatku betah berlama-lama di sana. Kalau tak lagi hujan atau udara tak terlalu dingin, aku suka duduk di pinggiran kolam sambil menatap kelopak-kelopak anggrek itu.
Suatu sore, entah kenapa rasanya tak tahan aku melihat bening air kolam dan warna merah kuning dan putih ikan-ikan koi di dalamnya; kumasukkan kedua kakiku di kolam sambil tetap duduk di pinggiran kolam.
"Kau suka?" tanya Yo tiba-tiba sudah berjongkok di dekatku, sama-sama di tepi kolam. Kedua tangannya ia celupkan di kolam. Lalu ia memercikkan sedikit air ke mukaku. Kujawab pertanyaannya sambil mengangguk dan tersenyum. Aku suka saat-saat ia usil dan mencandaiku seperti itu.
"Kalau kit sudah menikah nanti, akan aku buatkan kebun anggrek khusus untukmu di sebelah sana," katanya sambil menunjuk ke arah perkebunan miliknya dekat bukit di ujung desa.
"Jangan memberi mimpi, Yo. Bagiku, memilikimu adalah kebahagiaan yang paling besar setelah ayah dan ibu.
"Hm ... ini yang paling kusuka darimu, Rey. Kau selalu menempatkan aku sebagai yang utama, bukan hartaku, bukan kedudukanku."
"Ye ... jangan salah. Aku tak sebaik itu Yo. Ini hanya strategiku saja," jawabku sambil mengerling. Aku suka juga membuatnya penasaran.
"Maksudmu?"
"Maksudku, kau tertipu Yo. Aku tak sebaik itu. Kebaikan yang kau sangka itu hanya strategiku. Begitu aku bisa memilikimu, semua milikmu akan jadi milikku juga, kan?" jawabku sambil mengerling (sedikit nakal).
"Terserahlah apa katamu. Mau itu strategi, elegi, apalagi, atau gi gi yang lainnya aku tak peduli. Yang penting bagiu adalah cintamu. Caramu mencintaiku membuatku jatuh cinta, cintamu padaku membuat hidupku sangat bahagia. Itu saja."
Yo berdiri, memetik satu kelopak anggrek ungu lalu ia letakkan di genggamanku. Aku terpesona. Hatiku menghangat. Tubuhku meleleh. Perempuan mana yang takkan berguguran jantungnya diperlakukan sedemikian mesra oleh lelaki yang dipujanya?
"Di kebun itu nanti akan kubuat rumah seperti mimpi-mimpimu. Sebuah rumah besar untuk kelima anak kita kelak. Di halaman depan akan kita tanami kelengkeng, duku, manggis, mangga, jeruk, dan jambu jamaika. Di kiri kanan tetap kita biarkan tanaman aslinya. Di belakang rumah, akan kubuat sebuah kolam renang yang di kanan kirinya akan kupenuhi dengan segala anggrek kesukaanmu. Di pojok-pojoknya akan kutanami sawo kecik kesukaanmu," Yo menggenggam tanganku sambil menatapku lembut.
Aku meleleh nyaris tanpa sisa. Tak ada sedikit pun tenagaku. Ingin sekali kusandarkan tubuhku dan bergelung di dadanya. Ah ... kapankah saat itu tiba? Saat Tuhan meridai kami melakukannya.
Yo, jangan tunda lagi janjimu menikahiku, aku hanya mampu mengucapkan permohonan itu dalam hatiku.
"Kau suka?" tanya Yo.
"Ya." Hanya dua huruf itu saja yang sanggup kuucapkan.
"Kau tahu Rey, aku suka membayangkan ... kalau suatu saat sawo kecik itu berbuah, dan kau sedang berenang di kolam, aku akan melemparimu dengan sawo-sawo itu. Kubayangkan kau akan berteriak-teriak berusaha menangkap sawo-sawo itu. Hm ...," tatapan mata Yo jauh ke arah perkebunan seolah sedang membayangkan semua yang ia katakan tadi. "Karena tak tahan, aku pun akan menyusulmu berenang ... dan kita sama-sama menikmati sawo kecik itu di sana. Tidak satu-satu. Tetapi, aku akan menggigit sawo itu di ujung dan kau di ujung satunya."
"Mbak ... panggilan boarding," sebuah suara perempuan menyadarkanku dari lamunan.
Ya Tuhan ... ternyata 3 tahun tetap tak ada sanggupku menghapus kenangan tentang Yo. Bergegas aku melangkah menuju pintu boarding.
"Kuatkanlah aku menghadapi segala kenangan yang nyaris seperti pisau. Setiap saat, setiap ingat, selalu mengiris tipis-tipis sisa hatiku. Meninggalkan kepedihan yang tak pernah tahu kapan berakhirnya."
Yo, tak ada cinta semawar yang kau tanam di dadaku
tak ada luka senganga rindu padamu

Jumat, 23 Juni 2017

MADRASAH TERBAIK ITU, IBU (Review buku Parenting Islami bagi Generasi Digital Native)

MADRASAH TERBAIK ITU, IBU

Judul buku : MADRASAH TERBAIK ITU, IBU
Penulis      : Istiqomah, (Guru SMA Negeri 1 Batu , saat ini mutasi menjadi 
                   WI P4TK PKn dan IPS, dan Anggota Redaksi MediaGuru)
Penerbit    : MediaGuru
Kota, tahun terbit : Surabaya, 2017
Tebal buku: xviii + 230 halaman
Jenis buku: Parenting
Harga: Rp 60.000
Al umm madrasatul ula wal aula, Ibu adalah madrasah pertama dan utama. Pandangan bahwa seorang ibu adalah guru sekaligus sekolah pertama bagi seorang anak hingga saat ini tetap menjadi spirit yang hebat bagi seora
ng ibu dalam mendidik anak-anaknya. Dalam buku ini penulis tidak hanya membahas bagaimana seharusnya seorang ibu mendidik anak-anaknya, tetapi juga mengangkat kisah-kisah inspiratif yang diperolehnya dari ibu, kerabat, teman, juga peristiwa sosial yang dialaminya. Kisah-kisah itu ia jadikan dasar dalam mendidik anak-anaknya di rumah, anak didiknya di sekolah, bahkan ia jadikan saran dalam memberikan saran bagi teman atau kerabat yang menghadapi problem dalam mendidik anak-anaknya.
Pengembangan literasi disajikan pada bagian awal buku ini dengan menghadirkan kisah sukses penulis dalam mengajarkan membaca pada anak-anaknya. Sebuah best practice parenting yang diintegrasikan dalam aktivitas sehari-hari di rumah bersama keluarga. Penanaman karakter baik seperti rasa percaya diri pada anak, mandiri, dan sebagainya disajikan disertai kisah inspiratif penulis, sahabat, dan dari kejadian nyata.
Buku ini merupakan buku parenting yang memadukan antara kisah-kisah inspiratif tentang parenting yang kemudian dianalisis dengan teori parenting, psikologi, dan agama (dengan menyertakan dalil dan kisah/ riwayat). Pada setiap akhir bab selalu diberi sejumlah pertanyaan sebagai bahan refleksi apakah pembaca sudah melakukan praktik parenting yang tepat berkaitan dengan topik yang dibahas.
Satu hal yang menjadi ruh buku ini, keberhasilan dalam mendidik anak, kebahagiaan seorang anak dunia akhirat terletak pada dua hal keridaan dan doa ibunya. Adakah para Ibu sudah benar-benar meridai putra-putrinya? Atau masihkah tersisa kejengkelan yang terlupa memaafkan dan memohonkan ampun putra-putri Anda pada Allah SWT?
Bila Anda pernah membaca kisah ,"Anakku Ranking 23," tentang penyesalan orang tua yang awalnya sedih dan kecewa memiliki anak yang selalu mendapat ranking 23 di kelasnya. Namun kemudian orang tua tersebut justru bangga dengan prestasi lain yang dimiliki anaknya yaitu keikhlasannya berbagi dan selalu ringan tangan menolong orang lain.
Di buku ini, pada bab,"Maafkan Aku, Nak," pembaca akan diajak membaca kisah malpraktik parenting yang mengharu biru. Malpraktik parenting yang membuat penulis menyesal dan akhirnya mengubah pola parentingnya pada anak-anak bahkan siswanya. Pangkal masalahnya sama: prestasi akademis. Bedanya, penulis sampai melakukan tindakan ekstrim yang meninggalkan luka batin sangat dalam bagi dirinya dan terutama anaknya. Untuk menuliskan bab ini penulis membutuhkan waktu hampir dua bulan karena setiap kalimat ia tulis dengan air mata yang tak pernah berhenti. Penulis berharap dengan menuliskan kisah nyata itu, tak akan ada orang tua yang melakukan kesalahan yang sama.
Tak hanya bicara tentang kesalahan praktik parenting, dalam buku ini penulis juga menceritakan dan kemudian membahas tentang keberhasilannya mendidik ke empat anaknya sehingga pada usia 3,5 tahun ketiga anaknya sudah bisa membaca. Bahkan, anak terakhirnya mampu membaca dan mengetik huruf latin di HP atau komputer pada saat masih 2 tahun. Apakah penulis mengajarkan dengan kedisiplinan? Tidak. Penulis hanya melakukan apa yang dulu dilakukan almarhum ibunya pada dirinya dan saudara-saudaranya. Ada dua bab yang membahas tentang literasi yang sangat bermanfaaat bagi orang tua yang menginginkan anak-anaknya mampu membaca tetapi tidak dengan memaksa anak belajar membaca pada usia dini.

Top of Form
Selain itu ada juga dibahas tentang penanganan anak-anak korban perundungan (bullying), bagaimana mencegah anak menjadi manja,pengetahuan tentang kecakapan abad 21, memilih teman yang baik, dan banyak lagi yang lainnya. Buku yang difokuskan pada pembahasan tentang parenting bagi anak-anak digital native (generasi digital) ini sangat bermanfaat bagi orang tua, calon orang tua, dan guru. Kisah nyata di dalamnya serta pembahasannya secara mendalam dari segi agama, psikologi, dan parenting sangat tepat untuk dibaca dan jadi salah satu modal untuk mendidik anak-anak yang lahir pada masa digital ini.
Catatan: Buku setebal 230 halaman ini dapat Anda dapatkan dengan kontak langsung penulisnya, Istiqomah, di nomor HP/ WA 085749425501. Dengan harga Rp 60.000 belum termasuk ongkos kirim, Anda akan mendapatkan buku yang sangat bermanfaat ini.
Pengiriman buku insyaallah akan mulai setelah lebaran

Sabtu, 11 Juni 2016

Tanggapan terhadap Postingan Tindakan Asusila Pelajar

APA YANG KITA CARI?
(Refleksi ...)

Entah kenapa saya selalu miris ketika melihat video atau foto kenakalan anak-anak disebarluaskan. Bukan hanya miris karena perilaku mereka yang acapkali melanggar norma sosial, moral dan agama mulai dari cara  berpakaian, gaya mulut atau tangan, pose yang seronok dan menjurus, merokok, minum-minuman keras, dan masih banyak hal negatif lainnya.

Foto-foto dan video-video tersebut diunggah tanpa sedikit pun ada upaya sensor misal dengan memburamkan wajah pelakunya.

Lalu ... pengunggah maupun komentator akan beramai-ramai memosisikan dirinya sebagai sosok suci atau hakim yang tegas. Sosok-sosok suci itu pun berlomba menyampaikan menyampaikan fatwa dan nasihat dengan menyitir teori-teori, pendapat para pakar, dan menyitir ayat-ayat. Lomba fatwa yang seolah sebuah pengibaran bendera bahwa yang menyampaikannya adalah benar-benar suci. Para hakim dadakan juga berlomba menyampaikan dakwaan dan tuntutan hukuman.

Sedikit sekali di antara mereka yang mau merefleksi diri. Adakah para pemgunggah foto dan video itu yang bukan orang tua? Yang kelak tidak akan jadi orang tua? Atau malah sangat mungkin di antara mereka adalah kita, para guru?

Takkah kita pernah berpikir bahwa setiap manusia itu wajar berbuat salah dalam hidupnya. Sama sangat wajar dan sangat mungkin bahwa suatu hari mereka akan sadar dan berbenah diri. Bukankah orang yang bejat sekali pun masih sangat terbuka kemungkinannya mati dalam keadaan khusnul khotimah? Pun sebaliknya, kita yang merasa suci dari perbuatan-perbuatan aib yang dilakukan anak-anak itu masih sangat mungkin meninggal dalam keadaan suul khotimah?
Kalau pun hari ini kita merasa sebagai orang baik yang tidak pernah melakukan perbuatan buruk itu, adakah kita menyadari bahwa bisa jadi kita jauh lebih buruk dari anak-anak tersebut. Takkah kita sadari bahwa 'kebaikan' atau 'kesucian' itu karena kasih sayang Allah yang menutup aib kita.

Mari berdiri di depan cermin sejenak. Pandangilah diri kita. Sungguh hanya Allah yang melindungi kita dari aib kita. Pernahkah kita berpikir sejenak bahwa tubuh kita pun bisa jadi pengingat bahwa Allah menutupi aib-aib kita seperti hebat-Nya Allah menutup bau kencing dan tinja yang kita bawa kemana-mana?

Allah begitu luar biasa mengajarkan pada kita untuk menutup aib kita. Namun, hari-hari ini kita seolah-olah bangga saat menebarkan aib anak-anak kita. Apakah dengan menebarkan aib mereka, maka anak-anak lainnya akan terhindar dari perbuatan buruk tersebut? Apakah dengan menebarkan foto dan video mereka ke media massa, sosial media, dan lainnya anak-anak itu akan sadar dan lalu menjadi baik?

Apa sejatinya yang kita cari?

Bagaimana kalau mereka itu murid-murid kita atau bahkan anak kita sendiri? Baiklah, mereka mungkin bukan murid atau anak kita. Tapi, kita tak pernah tahu hari esok. Kita bisa saja mendidik anak dengan sangat hati-hati, membimbing dan membekali anak dengan agama yang baik, memberikan teladan yang baik. Tapi, siapa yang dapat menjamin anak-anak kita mampu bertahan dari serbuan tindakan amoral di dunia luar?

Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari semua itu.

Rasanya ... saya bisa membayangkan malunya, sakitnya, para guru dan orang tua yang anak-anaknya adalah pelaku tindakan negatif dalam foto dan video-video itu. Entahlah ... Saya merasakan tindakan memgunggahnya ke media sosial itu sebagai hukuman yang sangat kejam. Seolah-olah mereka yang berbuat salah harus kita cerca habis-habisan selamanya. Ya ... habis-habisan karena semua orang tergerak untuk ikut mencerca. Selamanya karena selama foto dan video itu masih ada di sosial media atau di internet, kapan saja orang melihatnya, orang akan kembali mencerca. Bahkan mungkin ketika mereka sudah meninggal dunia.

Anak-anak itu adalah anak-anak kita juga. Mereka adalah masa depan kita. Tegakah kita menghukum dan menghancurkan mereka? Bila dakwah bisa dilakukan dengan kasih sayang dan dengan cara-cara yang baik, mengapa kita memilih cara-cara yang kejam?

Allah Maha Pengampun. Manusia adalah khalifah di muka bumi, wakil Allah di muka bumi. 'Tak ada maaf bagimu' jelas tak layak dilakukan oleh wakil Allah.

Subuh ini sungguh saya hanya ingin mengajak kita semua menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Meski sejatinya masih ratusan pertanyaan lain memenuhi kepala dan dada saya.

Jangankan untuk anak-anak yang masa depannya masih panjang, bagi kita yang dewasa bahkan tua renta pun masih terbuka kesempatan untuk menjadi baik kembali. Selalu terbuka pintu taubat sebelum maut menjemput kita.

#saveourchildren.
Colek Kreshna Aditya, Satria Dharma, Setiawan Agung Wibowo, Leck Murman, Choirur Rofiq.

Postingan senada saya kopas dari grup WA sekolah saya. (Saya edit tanpa mengubah pesan di dalamnya)

KETIKA ALLAH MENGINGATKAN MUSA AKAN AIBNYA

Pada zaman Nabi Musa 'alaihis salam, Bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan.Mereka berkumpul mendatangi Nabi mereka, Musa 'alaihissalam...
Mereka berkata, "Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabb-mu agar Dia menurunkan hujan kepada kami."

Maka berangkatlah Musa 'alaihis salam bersama kaumnya menuju padang yang luas.

Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang...
Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus, dan lapar...

Nabi Musa berdoa,

إلهي.... أسقنا غيثك... و انشر علينا رحمتك و ارحمنا بالأطفال الرضع... و البهائم الرتع و المشايخ الركع......

"Ilaahi....! Asqinaa ghaitsak...Wansyur 'alaina rahmatak.... warhamnaa bil athfaal ar rudhdha'...wal bahaaim ar rutta'...wal masyaayikh ar rukka"
"Tuhanku...! Turunkan hujan kepada kami... Tebarkanlah rahmat-Mu kepada kami, kasihilah kami demi anak-anak yangg msh menyusui, hewan ternak yg merumput, dan para orang tua yang ruku' kepada-Mu..."

Setelah itu langit tetap saja terang benderang. Matahari pun bersinar makin kemilau.

Nabi Musa berdoa lagi, "Ilaahi ... asqinaa...."

Allah pun berfirman kepada Musa,

يا موسىأني أكون بغيثكم و فيكم رجل يبارزني بالمعاصي أربعين عاما.. فليخرج حتى أغيثكم

"Wahai Musa...Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian..."

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami... karena engkaulah hujan tak kunjung turun..."

Semua orang,saling melirik dan memandang penuh selidik pada orang di kanan  kirinya. Namun, tak seorang pun yang berdiri dan keluar dari majelis itu.

Saat itu pulalah, Nabi musa sadar kalau dirinyalah yang dimaksud Allah.

Ia berkata dalam hatinya, "Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku...Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun..."

Maka hatinya pun gundah gulana. Air matanya pun menetesmenyesali perbuatan maksiatnya.

Ia pun berkata lirih, "Ya Allah...Aku telah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun... selama itu pula Engkau menutupi 'aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku..."

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan. Semakin lama semakin tebal menghitam.

Akhirnya turunlah hujan...

Musa pun keheranan, "Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia."

Allah berfirman :

يا موسى لقد تاب وتبت عليه,, منعت عنكم الغيث بسببه,, وأمطرتكم بسببه

"Wahai Musa, dia telah bertaubat dan Aku telah menerima taubatnya, karena orang itu lah Aku menahan hujan kepada kalian, dan karena dia pula lah Aku menurunkan hujan..."

Musa berkata :

ربي أرني أنظر إليه,,ربي أرني ذلك الرجل

"Ya Allah...Tunjukkan padaku orang itu... Tunjukkan aku pada orang itu..."

Allah berfirman,

يا موسى.. لقد سترته وهو يعصيني؛

أفلا أستره وقد تــاب وعـــاد إلي؟؟
"Wahai Musa, Aku telah menutupi 'aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah sekarang Aku membuka 'aibnya sedangkan ia telah bertaubat dan kembali kepada-Ku...?!"

MasyaaAllaah
sungguh Maha Pengasih Engkau wahai Rabbi....
Kalaulah bukan karena Engkau yang menutupi aib-aib kami...
Tentulah kami akan sangat malu di hadapan para hamba-MU....

Engkau mengetahui dosa-dosa kami dan kemalasan kami dalam beribadah, padahal kami dilihat sebagai orang yg berTAQWA di pandangan para hamba-MU...

Engkau mengetahui kefakiran dan kebutuhan hajat kami, padahal kami dilihat sbg orang yg KAYA di pandangan para hamba-MU...

Engkau mengetahui kelemahan dan keluh kesah kami, padahal kami dilihat sbg orang yg KUAT di pandangan para hamba-MU...

Kawan....

# Jika Allah Ta'ala, Tuhan yg mengetahui segala perbendaharaan langit dan bumi saja menutupi segala aib hamba-NYA,

Lalu siapalah kita. Dan apa lah kita sehingga dengan entengnya menyebar luaskan aib dan keburukan saudara kita sendiri tanpa mashlahat.

Merasa seakan diri ini lebih suci, lebih alim, lebih hebat, dan lebih ahli dengan menyebarluaskan keburukan saudara kita....

Tak sadar bahwa ternyata aib kita sendiri sudah  tak terhingga....

Semoga kisah singkat ini bisa menjadi bahan renungan kita untuk selalu memperbaiki diri, SELAGI ALLAH MENUTUPI AIB KITA....

Sumber:
Kitab "Fii Bathni al-Huut" oleh Syaikh DR. Muhammad Al 'Ariifi.

Kamis, 21 Januari 2016

Belajar Kalimat Efektif

Pengantar: 
Banyak orang mengira bahwa kalimat efektif itu kalimat yang sesuai dengan EyD. Pemahaman ini tentu harus diluruskan. Mengapa? EyD atau Ejaan yang Disempurnakan hanya satu bagian saj dari syarat kebakuan kalimat. EyD itu berkaitan dengan tata cara penulisa saja, jdi tidak mencakup bagaimana pembentukan kata yang tepat, penyerapan kata asing yang benar, logika kalimat dan lainnya. 
Yuk mengenal kalimat efektif lebih dalam.
Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pesan pembicara atau penulis sama seperti yang dipahami oleh pembaca atau pendengar. Kalimat baku selalu berwujud kalimat efektif meskipun kalimat efektif tidak selalu  berwujud kalimat baku. Kalimat efektif yang tidak baku digunakan dalam bahasa pergaulan (ragam lisan). Kalimat efektif yang dibahas dalam bab ini adalah kalimat efektif yang memenuhi kaidah bahasa baku. Oleh karena itu, kalimat efektif harus memenuhi kaidah struktur, diksi, maupun logikanya.
Beberapa penyebab ketidakefektivan kalimat sebagai berikut.
1.      Menyalahi Kaidah Tata Bahasa
a.      Menyalahi kaidah fonologi (ejaan) 
         Kaidah fonologi dalam bahasa lisan terlihat dari penggunaan ejaan. Kalimat tidak efektif karena menyalahi kaidah EYD (lihat bab Ejaan).
         Contoh :
1)   Harga B.B.M semakin tak terjangkau rakyat kecil. (B.B.M seharusnya
      BBM).
2)   Pelayanan kesehatan di Puskesmas sekarang ini sudah memenuhi standart. (Puskesmas seharusnya puskesmas sebab tidak diikuti nama wilayahnya, standart seharusnya standar).
3)   Jangan menyalah gunakan jabatanmu! (penulisan menyalah gunakan seharusnya dirangkai menjadi menyalahgunakan sebab kata majemuk yang mendapat konfiks/afiks gabung harus ditulis menjadi satu).
b.      Menyalahi kaidah morfologi (pembentukan kata)
         Contoh:
1)   Anissa memakai pakaian yang menyolok mata. (menyolok seharusnya mencolok, sebab kaidah morfofonemis meN- + c,d,t, j → men-.)
2)   Para siswa mendiskusikan hasil analisa mereka. (analisa seharusnya analisis).
3)   Ketua menyampaikan pertanggungan jawab di depan anggota.  (pembentukan kata pertanggungan jawab salah sebab gabungan kata tersebut berasal dari bentuk dasar tanggung jawab mendapat konfiks per-an. Jadi seharusnya menjadi pertanggungjawaban).
4)   Pemerintah akan memperlebarkan jalan propinsi ini tahun depan.
      (Kata memperlebarkan mengandung kerancuan seharusnya melebarkan atau memperlebar).
c.         Menyalahi kaidah sintaksis/tata kalimat.
            Contoh:
1)   Sehingga ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Kalimat tunggal ini tidak efektif didahului oleh konjungsi).
2)   Mereka yang bertanggung jawab dalam masalah ini. (Pola kalimat tidak jelas sebab P didahului oleh “yang“)
      Yang efektif : Mereka  bertanggung jawab dalam masalah ini
3)   Pada rapat itu membahas upaya pemberantasan virus H5N1. (S kalimat aktif tidak jelas sebab didahului oleh kata depan).
      Pembetulan: Rapat itu membahas upaya pemberantasan virus H5N1.  
atau     Pada rapat itu dibahas upaya pemberantasan virus H5N1.
4)   Ia sangat suka bermain sepak bola, basket, dan ayam goreng. (Mengandung ketidaksejajaran makna sebab sepak bola, basket, dan ayam goreng sama-sama berfungsi sebagai pelengkap dengan P yang sama yaitu suka bermain.)
Pembetulan: Ia sangat suka bermain sepak bola dan basket serta makan
ayam goreng.
5)   Dengan mengucap syukur Alhamdulillah maka selesailah pembangunan musholla Ma’al Abror ini. (Mengandung ketidaksejajaran makna. Apakah mungkin hanya dengan mengucap Alhamdulillah maka pembangunan mushola Maal Abror bisa langsung selesai?).
      Pembetulan:
      Marilah kita mengucapkan Alhamdulillah atas selesainya pembangunan musholla Ma’al Abror ini.
6)   Pekerjaannya menangani peminjaman, pengembalian, dan menata buku di perpustakaan. (Mengandung ketidaksejajaran bentuk kata. Seharusnya jika setelah kata menangani (P) berwujud KB (peminjaman, pengembalian) maka menata seharusnya penataaan atau semuanya dijadikan KK menjadi meminjamkan, mengembalikan, dan menata)
      Pembetulannya:
a. Pekerjaannya menangani peminjaman, pengembalian, dan penataan
    buku di perpustakaan.
b. Pekerjaannya menangani meminjamkan, mengembalikan, dan menata
    buku di perpustakaan
3.      Kalimatnya tidak logis/tidak masuk akal.
         Contoh:
1)   Pencuri berhasil ditangkap polisi. (Yang berhasil bukan pencurinya, tetapi polisinya sebab pencuri yang berhasil seharusnya tidak tertanggkap, tetapi mampu melarikan diri).
      Pembetulan: Polisi berhasil menangkap pencuri.
2)   Yang merasa kehilangan dompet dapat diambil di kantor tata usaha. (Yang diambil dalam kalimat tersebut adalah yang kehilangan (orangnya), bukan dompetnya).
      Pembetulan: Yang merasa kehilangan dompet dapat mengambilnya di
kantor tata usaha.
4.   Tidak mengandung unsur mubadzir
      a.   Kedua orang itu saling berpandang-pandangan.
            (kata ulang berpandang-pandangan sudah bermakna ’saling’).
            Pembetulan:
Kedua orang  itu  berpandang-pandangan.
   Kedua orang itu salingberpandangan.
b.   Penjelasan petugas dari Dinas Kesehatan Kota Batu amat sangat jelas bagi
kami.
Pembetulan:    Penjelasan petugas Dinas Kesehatan Kota Batu sangat jelas
bagi kami.
5.   Pilihan kata tidak tepat.
      Contoh: Selesai belajar bunuhlah lampunya.
      Pembetulan: Selesai belajar padamkan lampunya.
6.   Mengandung unsur kedaerahan/asing.
      Contoh: Gue nggak mau ngurusin soal itu lagi.
                    Demi kepuasan para kustomer kami akan meningkatkan pelayanan.
  (kata kustomer seharusnya pelanggan).
7.   Bermakna ambigu atau ganda.
      Contoh: Istri pak lurah yang baru itu meninggal dunia. (yang baru ‘pak lurah’
                   atau ‘istrinya’).

            Pesawat Fokker baru mendarat di lapangan terbang Adi Sucipto Malang.

            (pesawat fokker baru atau baru mendarat?) 

Senin, 04 Januari 2016

SUP KAKI KAMBIG

TIM KAKI KAMBING, RESEP RAHASIA MERTUA

Tiap kali menjelang hari raya Idul Adha ada satu hal yang secara tak sadar sering terbayang-bayang.  Sesuatu yang sepele, lucu, atau barangkali aneh dan bisa jadi memalukan ya? Entahlah. Mau tahu apa itu? Hehehehe, aku sering terobses untuk mendapatkan kaki kambing. Sayangnya, obsesi yang sering mucul sejak limat tahun belakangan ini jarang terwujud.


Maklumlah suamiku pasti gak bakalan bersedia membawakan kaki kambing itu meski cuma sebelah sekali pun.  Padahal  sebagai salah seorang pengurus masjid di kompleks perumahan kami, tiap tahun dia selalu jadi panitia. Hm… melas banget. Ada tiga kali aku iseng-iseng pesan padanya.

“Mas, ntar bawain kaki kambing ya Mas, satu aja. Pengin banget aku memasaknya.”

Bukannya menjanjikan untuk membawakannya, malah aku ditegurnya.

“Malu-malu in saja! Berapa sih harganya? Umy beli saja ntar Aby ganti,” katanya.

Huaaaah, mana seru? Yang asyik kan kaki kambing itu didapetnya dari kambing kurban, dimakannya pas hari raya kurban. Lagi pula, karena bukan termasuk daging, kurasa gak salah kan kalau aku memintanya (hehehe jujur yang ini sebenarnya di hati malulah hahaha. Tapi supaya tulisan ini asyik, ya gak papa. Hahaha). 

Untungnya, sejak dua lebaran idul adha terakhir ini, pembantuku selalu dengan baik hati membawakan untukku. Heheheh, anak laki-lakinya yang biasa ikut motong kurban di mushala dekat rumahnya. Alhamdulillah sekarang aku bisa memasak kaki kambingkesukaanku.

Sebenarnya sering aku berpesan pada tukang sayur langgananku untuk membawakan kaki kambing. Sayangnya selalu tak terpenuhi. Beberapa kali juga kalau aku ke pasar, aku mencoba mencarinya. Sayangnya, sekali lagi, aku selalu gagal mendapatkannya. Jadilah, bila Idul Adha, aku sungguh mendambakan untuk mendapatkannya, meski Cuma sebelah.

Oh… kaki kambing idaman….

Awalnya aku paling benci bila berkunjung ke mertua dan mendapat sajian masakan kaki kambing. Biasanya perutku langsung mulas dan selera makanku langsung amblas. Entah kapan aku mulai menyukai masakan itu. Kurasa inilah benarnya pepatah Jawa, "gething, nyandhing". Membenci bakal menyukai. Buktinya dari sangat membencinya, sekarang saya sangat menyukainya. Hingga sekarang aku menjadikannya sebagai bahan masakan kesukaanku.

Sayangnya, tak mudah mendapatkan kaki kambing itu.

Mau tahu, kaki kambing itu dimasak apa? Masakan sederhana namun sekelas dengan sop buntut atau sop iga. Bisa membuat gairah makan meningkat dan mungkin baik juga buat orang yang dalam masa penyembuhan.  Namanya “Tim Kaki kambing”.

Nah inilah resepnya:
a.  Sepasang kaki kambing (berarti empat buah ya), yang sudah bersih.
b.  Sayur: buncis muda, potong-potong sekitar 3 cm.
c.  Rebus selama kurang lebih setengah jam dengan menggunakan panci presto.
d.  Siapkan bumbu-bumbunya:
     Bumbu halus: 5 siung bawang merah, 4 siung bawang putih, 15 butir merica, 3 cm
                             jahe. 
    Bumbu yang diiris:  4 batang daun bawang iris halus, 
                                         2 buah tomat ukuran sedang    belah jadi 6, 
                                         dan 2 batang serai belah jadi dua, 
                                         plus asam jawa secukupnya.
e.  Setelah kaki kambing lunak, bagi yang ingin aroma kambing tidak terlalu menyengat 
     oleh membuang kaldunya. Namun, bila dirasa tidak terlalu amis, kaldu bisa digunakan
     untuk memasak tim.
f.    Masukkan kaki kambing yang sudah lunak, air 2 liter, rebus hingga mendidih.
g.  Masukkan buncis yang sudah diiris.
h.  Tiga menit berikutnya masukkan semua bumbunya. Tambah gula pasir dua sendok.
i.   Sup siap dihidangkan dengan pelengkap sambal kecap, tahu gorEng, dan kerupuk udang.

   Tergoda? Silakan berburu kaki kambing. Tapi ingat, jangan sampai memotong kaki
kambing yang masih hidup!


Sabtu, 19 Desember 2015

D TOPENG MUSIUM ANGKUT

D’topeng Museum Angkut
           
D’topeng adalah salah satu tempat wisata yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Keberadaan D’topeng tidak dapat dipisahkan dengan Museum Angkut karena kedua tempat ini berada di satu tempat yang sama. Tempat wisata ini seringkali disebut pula sebagai museum topeng karena memang berisi topeng dengan berbagai model dan bentuk. Namun, D’topeng tidak hanya berisi topeng, tetapi juga berisi pameran benda-benda berupa barang tradisional dan barang antik. Topeng, barang tradisional, dan barang antik dalam museum ini dapat dikelompokkan menjadi lima jenis berdasarkan bahan pembuatannya, yaitu berbahan kayu, batu, logam, kain, dan keramik.
Benda paling diminati pengunjung untuk diamati dan paling mendominasi tempat ini adalah topeng. Ada beragam jenis topeng di museum ini. Topeng-topeng tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian berdasarkan bahan dasarnya, yaitu yang berbahan dasar kayu dan batu. Topeng berbahan kayu sebagian besar berasal dari daerah Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, dan Jawa Barat. Sementara itu, topeng yang berbahan batu berasal dari daerah sekitar Sulawesi dan Maluku.
Selain topeng, barang-barang tradisional juga dipamerkan di D’topeng. Barang-barang tradisional yang mengisi etalase-etalase museum ini adalah senjata tradisional, perhiasan wanita zaman dahulu yang berbahan dasar logam, batik-batik motif lama, dan hiasan rumah kuno. Berdasarkan bahan dasarnya, barang-barang tersebut juga dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu berbahan dasar kayu seperti hiasan rumah berupa kepala kerbau asal Toraja, berbahan dasar batu seperti alat penusuk jeruk asal Batak, berbahan dasar logam seperti pisau sunat dan perhiasan logam asal Sumba, dan yang berbahan dasar kain seperti batik berbagai motif asal Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Benda terakhir yang mengisi museum ini adalah barang kuno yang sampai saat ini masih dianggap bernilai seni tinggi atau biasa kita sebut barang antik. Barang-barang antik seperti guci tua, kursi antik, bantal arwah, mata uang zaman kerajaan-kerajaan, dan benda-benda lain dapat dijumpai di dalam museum D’topeng. Barang-barang tersebut dapat pula digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan bahan pembuatannya,  yaitu keramik dan logam. Barang antik berbahan dasar keramik di museum ini adalah guci-guci tua peninggalan salah satu dinasti di China dan bantal yang digunakan untuk bangsawan Dinasti Yuan (China) yang sudah meninggal. Sementara itu, barang antik yang berbahan dasar logam adalah jinggaran coin (Kerajaan Gowa), mata uang kerajaan majapatih, koin VOC, dan kursi antik asal jawa Tengah.

Selain untuk dipamerkan, benda-benda di D’topeng ini juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya. Selanjutnya, D’topeng berfungsi pula sebagai museum, yaitu sebagai konservasi benda-benda langka agar terhindar dari perdagangan illegal.

JAWABLAH TUAN (Puisi untuk alm. Sam Eko dan Sam Slamet, Korban kerusuhan Supporter Bola di Sragen)

RIP Sam Eko Prasetyo dan Sam Slamet.
Ketika anak-anak kami berbaku hantam
berebut tulang demi arang, kemanakah kalian, Tuan?
Masih sibukkah Tuan berbagi hasil jarahan setelah sebulan bermain sandiwara dengan lakon persidangan atas nama kehormatan?
Ketika kami berurai air mata melihat tingkah polah anak kami yang makin tak terkendali,
sadarkah Tuan, inilah hasil teladan yang kalian berikan?
Masihkah telinga kalian dibudegkan dan mata kalian terbutakan oleh gemerlap kursi dan tumpukan harta hasil korupsi?
Tuan-tuan yang duduk nyaman di Senayan ...
Takkah kalian lihat kami terengah-engah, sepenuh harapan
menuntun tangan anak-anak kami agar tetap tegak berdiri
meski jalan kehidupan berkelok, 
dan cahaya kebenaran lebih sering padam ketimbang terang
sambil terus menadahkan tangan
bermohon kekuatan pada Dia Yang Punya Kekuasaan
Wahai Tuan bagaimanakah kelak kita menghabiskan masa tua
bila negeri ini telah kita titipkan pada mereka
yang kita didik dengan kepalsuan, kekerasan, dan adu fitnah yang kejam?
Tuan-Tuan, yang sungguh terpaksa kami sebut Yang Mulia
Katakan, bagaimana kami mampu berperang
menandingi teladanmu, memerangi gempuran fatwa televisi,
membentengi diri dari serbuan teknologi?
Adakah dinding rumah kami yang atap-atapnya bocor
dan ruang-ruang kelas yang sering ditinggal gurunya yang terlalu sibuk menuntaskan tugas-tugas administrasi
mampu menyelamatkan anak-anak kami?
Jawablah Tuan
bukankah anak-anak kami adalah anak-anakmu juga.
atau ...
Semoga: Sam Eko Prasetyo dan sam Slamet menjadi pupuk bagai damainya anak-anak bangsa. Cukupkan permusuhan. Tak ada yang kita perebutkan kecuali tulang keropos tanpa makna. Kita sama-sama rugi.Yuk damailah, anak-anakku.
(Doa semoga khusnul khotimah). Malang, 19 Desember 2015

Kamis, 17 Desember 2015

D TOPENG MUSIUM ANGKUT (Contoh Laporan Hasil Observasi)

D’topeng Museum Angkut
           
D’topeng adalah salah satu tempat wisata yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Keberadaan D’topeng tidak dapat dipisahkan dengan Museum Angkut karena kedua tempat ini berada di satu tempat yang sama. Tempat wisata ini seringkali disebut pula sebagai museum topeng karena memang berisi topeng dengan berbagai model dan bentuk. Namun, D’topeng tidak hanya berisi topeng, tetapi juga berisi pameran benda-benda berupa barang tradisional dan barang antik. Topeng, barang tradisional, dan barang antik dalam museum ini dapat dikelompokkan menjadi lima jenis berdasarkan bahan pembuatannya, yaitu berbahan kayu, batu, logam, kain, dan keramik.
Benda paling diminati pengunjung untuk diamati dan paling mendominasi tempat ini adalah topeng. Ada beragam jenis topeng di museum ini. Topeng-topeng tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian berdasarkan bahan dasarnya, yaitu yang berbahan dasar kayu dan batu. Topeng berbahan kayu sebagian besar berasal dari daerah Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, dan Jawa Barat. Sementara itu, topeng yang berbahan batu berasal dari daerah sekitar Sulawesi dan Maluku.
Selain topeng, barang-barang tradisional juga dipamerkan di D’topeng. Barang-barang tradisional yang mengisi etalase-etalase museum ini adalah senjata tradisional, perhiasan wanita zaman dahulu yang berbahan dasar logam, batik-batik motif lama, dan hiasan rumah kuno. Berdasarkan bahan dasarnya, barang-barang tersebut juga dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu berbahan dasar kayu seperti hiasan rumah berupa kepala kerbau asal Toraja, berbahan dasar batu seperti alat penusuk jeruk asal Batak, berbahan dasar logam seperti pisau sunat dan perhiasan logam asal Sumba, dan yang berbahan dasar kain seperti batik berbagai motif asal Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Benda terakhir yang mengisi museum ini adalah barang kuno yang sampai saat ini masih dianggap bernilai seni tinggi atau biasa kita sebut barang antik. Barang-barang antik seperti guci tua, kursi antik, bantal arwah, mata uang zaman kerajaan-kerajaan, dan benda-benda lain dapat dijumpai di dalam museum D’topeng. Barang-barang tersebut dapat pula digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan bahan pembuatannya,  yaitu keramik dan logam. Barang antik berbahan dasar keramik di museum ini adalah guci-guci tua peninggalan salah satu dinasti di China dan bantal yang digunakan untuk bangsawan Dinasti Yuan (China) yang sudah meninggal. Sementara itu, barang antik yang berbahan dasar logam adalah jinggaran coin (Kerajaan Gowa), mata uang kerajaan majapatih, koin VOC, dan kursi antik asal jawa Tengah.

Selain untuk dipamerkan, benda-benda di D’topeng ini juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya. Selanjutnya, D’topeng berfungsi pula sebagai museum, yaitu sebagai konservasi benda-benda langka agar terhindar dari perdagangan illegal.

WAYANG (Contoh Teks Laporan hasil Observasi)

Contoh Teks Laporan hasil Observasi

Wayang

Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Para wali songo, penyebar agama Islam di Jawa sudah membagi wayang menjadi tiga. Wayang kulit di timur, wayang wong atau wayang orang di Jawa Tengah, dan wayang golek atau wayang boneka di Jawa Barat. Penjenisan tersebut disesuaikan dengan penggunaan bahan wayang. Wayang kulit dibuat dari kulit hewan ternak, bisa berupa kerbau, sapi, atau kambing. Wayang wong berarti wayang yang ditampilkan atau diperankan oleh orang. Wayang golek adalah wayang yang menggunakan boneka kayu sebagai pemeran tokoh. Selanjutnya, untuk mempertahankan budaya wayang agar tetap dicintai, seniman mengembangkan wayang dengan bahan-bahan lain, antara lain wayang suket dan wayang motekar.
Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua adalah wayang purwa. Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari: tuding dan gapit. Cerita yang biasanya digunakan adalah Ramayana dan Mahabharata. Wayang purwa terdiri atas beberapa gaya atau gagrak seperti, gagrak Kasunanan, Mangkunegaraan; Ngayogyakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon dan sebagainya. Selain wayang purwa jenis wayang kulit yang lain yaitu: wayang madya wayang gedog wayang dupara, wayang wahyu, wayang suluh, wayang kancil, wayang calonarang, wayang krucil; wayang ajen; wayang sasak, wayang sadat, wayang parwa wayang arja, wayang gambuh, wayang cupak dan wayang beber yang saat ini masih berkembang di Pacitan
Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti ‘orang’) adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat menghibur.
Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Wayang ini disebut juga sebagai wayang thengul. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek. Wayang tersebut pertama kali dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji dan Damarwulan. Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak, wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen.
Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket. Disebut wayang suket karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk menyerupai wayang kulit. Wayang suket merupakan tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.
Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit. Akan tetapi, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar menggunakan teknik terbaru hingga bayang-bayangnya bisa tampil dengan warna-warni penuh. Wayang motekar ditemukan dan dikembangkan oleh Herry Dim setelah melewati eksperimen lebih dari delapan tahun (1993 – 2001). Wayang tersebut menggunakan bahan plastik berwarna, sistem pencahayaan teater modern, dan layar khusus.

Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai   kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan. Wayang bermanfaat sebagai media pendidikan karena isinya banyak memberikan ajran-ajaran kehidupan kepada manusia. Pada era modern ini, wayang juga banyak digunakan sebagai media informasi. Ini antara lain dapat kita lihat dari pagelaran wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana (KB), pemilihan umum, dan sebagainya.Yang terakhir, meski semakin jarang, wayang masih tetap menjadi media hiburan. 

Senin, 28 September 2015

TUNJANGAN GURU TIDAK AKAN DIHAPUS

Sedih rasanya mendengar keresahan para guru karena terprovokasi berita tentng penghapusan TPG. Ajakan untuk berdemo disusul komentar ancaman untuk ikut serta berdemo, ditambah hujatan tentang janji  politik Presiden Jokowi pun bertebaran di media sosial.

Biasa saja. Saya dulu gak milih Jokowi. tapi sebagai warga negara yang baik, saya menghormati pemimpin saya.  Kalau pun ada sesuatu yang tidak sesuai dengan perundangan yang berlaku, bukankah masih banyak cara lain untuk menyampaikan aspirasi.

Terlebih lagi, kenyataan di lapangan para guru yang resah dan galau gara-garabegitu takut TPG benar-benar dihapus itu rata-rata tidak membaca sendiri artikel atau berita yang membahas isu tersebut. Banyak yang hanya membaca judul langsung terprovokasi. Adalagi yang membaca berita, tetapi tidak mengklarifikasi ebenaran isinya. (Duh ... Saya rasa kita sepakat bahwa budaya baca kita rendah. Kita jarang secara cerdas membedakan antara fakta dan opini) Akibatnya, kita sering terpenjara, tersiksa oleh hasil persepsi kita.

Ah sudahlah. saya gak bakal nulis lainnya lagi. Fokus untuk membagi berita tentang TIDAK DIHAPUSNYA TUNJANGAN GURU.
Berita ini saya kopas dari http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4653 (Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud), hari Selasa, 29 September 2015.


Tunjangan Profesi Guru Tidak Dihapus

Mon, 09/28/2015 - 18:45
Jakarta, Kemendikbud --- Tunjangan Profesi Guru (TPG) tidak dihapus. Hal itu ditegaskan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Sumarna Surapranata, menanggapi isu adanya rencana penghapusan tunjangan profesi guru.
"Nggak ada yang bilang menghapuskan. Buktinya, tunjangan profesi guru tahun depan sudah dianggarkan," ujar pria yang akrab disapa Pranata itu di Kantor Kemendikbud, Jakarta, (28/9/2015).
Ia mengatakan, untuk tahun 2016 sudah disiapkan anggaran sebesar Rp73 triliun untuk tunjangan profesi guru PNSD (Pegawai Negeri Sipil Daerah) dan Rp7 triliun untuk tunjangan profesi guru non-PNS dari APBN. Pemberian tunjangan profesi guru itu sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam pasal 15 ayat 1 UU tentang Guru dan Dosen itu disebutkan, penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum yang diterima guru meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru.
Terkait dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), Pranata mengimbau berbagai pihak agar tidak membuat interpretasi sendiri tentang status tunjangan profesi guru karena pemberlakuan UU ASN itu. Aturan mengenai tunjangan kinerja untuk guru PNS sesuai ASN masih menunggu Peraturan Pemerintah (PP) yang sedang disiapkan oleh Kemenpan-RB.
Dalam pasal 80 ayat 1 UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan, selain menerima gaji, PNS juga menerima tunjangan dan fasilitas. Kemudian pasal 80 ayat 2 menyebutkan, tunjangan tersebut meliputi tunjangan kinerja dan tunjangan kemahalan. Pranata mengatakan, konten dalam UU ASN itu tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa tunjangan profesi guru bagi guru PNS akan dihapus karena tidak tercantum dalam UU ASN.
"Perkara apakah tunjangan kinerja itu sama dengan tunjangan profesi, kita tunggu peraturan perundang-undangan yang mengatur lebih khusus, atau peraturan perundang-undangan di bawahnya, yaitu peraturan pemerintah (PP)," ujar Pranata. (Desliana Maulipaksi)

AKU TERGODA

Tadi pagi pas berangkat sekolah, tiba-tiba sebuah mobil hitam dari arah berlawanan memperlambat jalannya. Sang sopir membunyikan klakson, dan menurunkan jendela kacanya.
Pria tampan hampir setengah abad itu melempar senyum hangatnya padaku. Uhm ...Hatiku berdebar keras. Pria itu terlalu menggoda untuk dilupakan. Senyumnya nyaris membuat jantungku jatuh dan hancur berantakan.
Rasanya ingin sekali kubalikkan motorku dan kuikuti pria itu agar kutahu siapa dia, dimana rumahnya, dan dapatkah kumiliki hatinya.
Ah ... sayangnya ini hari Senin dan aku harus ikut upacara bendera pagi-pagi. Apa kata murid-muridku kalau aku sampai tak upacara hanya karena hatiku terhoda.
Aaaaaaaaaaaaaaah ....
...........
Jalanan macet dekat pertigaan menuju SMA 2. Itu membuat romantisme hatiku terganggu.
Dan aku tersadar ternyata .... pria itu suamiku.

(Batu, 24 Agustus 2015)