Senin, 18 November 2013

RENUNGAN AHAD PAGI

RENUNGAN AHAD PAGI

29 Januari 2012 pukul 15:40
Seperti adatnya, tiap hari Minggu, aku memberi jatah libur bagi pembantuku. Meski sejatinya, seharusnya, hari Minggu adalah saat bagiku dan suamiku untuk istitrah, refreshing dari beban kerja sehari-hari. namun, pembantuku juga kan punya keluarga, suami dan anak cucu. Tentu ia pun ingin berkumpul dengan mereka pada hari libur.

Bila biasanya, aku hanya masak ala kadarnya seusai shalat subuh, untuk sarapan pagi, dan hanya sempat menyapu rumah, dan mencuci piring dan gelas bekas sarapan pagi, maka semua pekerjaan yang biasanya dikerjakan pembantuku, pada hari Minggu kulakukan sendiri, terkadang dibantu suami. Mulai dari berbelanja, memasak, mencuci, bersih-bersih, dan lain-lainnya. Kesibukan ini kujalani dengan ringan hati, sembari bersyukur masih punya kesempatan menikmati rutinitas sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anakku sepenuhnya meski hanya seminggu sekali.

Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, hari ini, seperti kurencanakan sebelumnya, aku menambah jadual pekerjaanku dengan membersihkan 3 KM, 2 WC, dan 1 bathup. Olalala... rasanya remuk redam. Untunglah, bath up air hangat mampu mengurangi sedikit kepenatanku. tentu saja dengan segala etek dan bengeknya seperti masker, luluran, dan creambath yang kulakukan sendirian. jadi, seusai berkeringat, tubuh bisa balik harum dan fresh lagi.

Namun, seusai memberi hak tubuh untuk istirahat, aku kembali tertegun. Cucian piring dan gelas di dapursudah numpuk. Maklum, keempat anakku sama-sama libur. Jadi seusai si sulung futsal, yang kedua sepak bola, mereka langsung makan dan lupa mencuci piring. Dengan niatan mengajarkan tanggung jawab dan berbagi tugas, kuminta mereka mencuci piring dan gelas yang dipakainya.

Saat itulah, kesadaran diam-diam merambat di hatiku.
"Alangkah beratnya beban Bu Dhe setiap hari mengerjakan semua ini tanpa pernah berani minta bantuan pada anak-anakku, apalagi padaku. Iya, kalau aku, sebagai PNS kelak ketika tua akan mendapat pensiun dan hidupku secara material insyaallah terjamin. Lha Bu Dhe? Bagaimana dengan nasibnya di masa tua? Sekarang aku memanfaatkan tenaganya supaya aku dan suamiku  bisa mendapat penghasilan, terjamin kehidupan duniawi kami sampai pensiun nanti. ya Allah.... alangkah tidak adilnya."

Aku gemetar. Air mataku hampir saja menetes. Segera kuambil wudlu dan salat dhuhur. Seusai dhuhur kembali kulanjutkan merenung. Saat itulah aku kembali terkenang pada alm. Mbah lah, pembantu eyangku, yang dulu mengasuh ayahu sejak kecil. Kini ayahku sudah berusia 74 tahun. Kuingat ketika kecil, Mbah lah tidak hanya membantu eyangku di sawah atau kebun. ia juga membantu eyang di dapur, terutama memasak untuk pekerja eyang di sawah. Tak hanya itu, ia masih juga menyembpatkan membantu ibuku menumbuk kopi (buat bubuk) atau mencarikan kayu bakar. Seperti umumnya perempuan desa pekerja lainnya, tenaganya begitu kuat.

Mbah Lah sangat sayang pada bapak, juga ibu, bahkan padaku dan saudara-saudaraku. Ketika ia tak lagi sanggup bekerja, sudah pikun dan renta, ibuku sering menjenguknya, memberikan sedikit bantuan yang mampu ia berikan. Ibu juga selalu memintaku dan saudara-saudaraku untuk menjenguknya bila kami mudik ke rumah bapak. Saat itu, aku tidak berpikir jauh. Kupikir, apa yang dianjurkan ibu adalah perluasan dari amanah beliau agar kami menjadi orang yang suka menolong.

Tapi hari ini... Ya Allah, aku gemetar. Aku melihat pelajaran lain yang belum sempat kupahami saat ibu mengajarkan kami untuk terus menyayangi Mbah Lah dan keluarganya, bahkan salah seorang cucunya yang yatim.

hari ini, ketika tubuhku terasa penat seusai mengerjakan pekerjaan rumah tanpa bantuan pembantu, aku sadar bahwa Bu Dhe, pembantuku, memiliki jasa yang besar yang tak seharusnya hanya terbayar ketika ia masih bersama kami. kelak, ketika usianya semakin tua dan tubuhnya mulai renta, selayaknyalah kami harus memikirkannya. Bukankah kini, ketika ia masih bertenaga dan kuasa bekerja, kami telah memanfaatkan tenaganya?

Ya Allah... semoga renungan Ahad pagi ini akan tetap kuingat dan kujalankan ketika Bu Dhe tua nanti. Ampuni aku atas segala kelalaian dan kelemahanku. Dengan kuasa-Mu, dengan petunjuk-Mu, dan bimbingan-Mu, kumohon, bimbinglah aku menjadi hamba-Mu yang selalu berjalan pada syariat-Mu. Amiin ya Robbal Alamin.

MELAWAN CINDERELLA SYNDROM

VONIS

1 Maret 2012 pukul 21:25
(Lama gak posting cerpen atau puisi. hari ini kubagikan cerpenku yang gak lolos dalam audisi bersama Perempuan Fiksi... dengan sedikit pembenahan)> Baca dan tinggalkan masukan ya....

Di hadapanku Mas Hanung duduk dengan wajah gelisah. Aku sudah dapat menebak berita apa yang hendak ia sampaikan padaku. Dadaku sesak. Beberapa saat kami hanya saling berdiam diri. Sipir tahanan yang berdiri tak jauh dari tempat kami duduk mengawasi kami dengan pandangan tajam . Kucoba menenangkan diri. Hasilnya aku malah terseret kegelisahannya.

Dinding-dinding ruang pengunjung yang terkelupas di sana sini, bangku-bangku kayu yang kusam memperkelam siang yang panas ini.

Akhirnya Mas Hanung menyerahkan beberapa lembar kertas padaku.

“Permohonanku dikabulkan. Tanda tangani saja,”katanya dengan suara dan wajah datar.

Kata-kata Mas Hanung meluncur begitu saja. Tak ada keraguan. Tatapannya dingin. Tak ada lagi pancaran sayang atau rindu di mata yang dahulu selalu menatapku penuh kekaguman itu. Oh, kemana hilangnya kelembutan dan kemesraan dalam suara laki-laki yang selama 7 tahun ini mendampingiku.

“Tidak bisakah Mas menundanya? Setidaknya hingga kasusku diputuskan?”
“Tidak! Aku tak sanggup mendengar cemoohan orang-orang, terutama keluargaku. Kamu tahu kan, bagaimana kerasnya sikap keluarga besarku.”

Aku tertunduk kelu. Sulit membayangkan keluarga Mas Hanung yang dahulu begitu baik dan menghormatiku kini berubah drastis. Dahulu aku adalah menantu kesayangan dan kebanggaan. Tiap ada permasalahan, aku menjadi rujukan pertama pemecahannya, terutama masalah finansial. Dalam setiap pertemuan keluarga, pesta, dan segala pamer kemewahan aku dijadikan teladan. Dipuja dan dihormati. Kini, jangankan menjengukku di rumah tahanan ini, mengakui aku sebagai bagian dari keluarga besar mereka pun mereka malu. Aku yang bertahun-tahun menjadi pahlawan ekonomi bagi keluarga besarnya, kini menjadi seonggok sampah yang mengotori nama baik keluarganya.

“Siska, mengertilah. Aku tak bisa menunggumu. Keluarga besarku mendesakku terus,”pintanya setengah mendesakku.
“Lalu anak-anak?”

Terbayang dua wajah bocah mungil yang malang. Entah bagaimana nasib Bryan, 5 tahun, dan kakaknya Annetta, 8 tahun itu kini. Terakhir kali aku bertemu mereka adalah saat ibuku membawa keduanya menjengukku saat masih ditahan di mapolda.  Mereka tampak kurus dan tak terurus. Mata mereka kuyu. Sama seperti mata ibuku. Kehilangan cahaya. Saat itu, seandainya harus membunuh seribu orang sekali pun, aku akan melakukannya bila aku dapat kembali memeluk kedua buah hatiku, mengembalikan binar bahagia di mata ibu.

“Biarkan mereka ikut ibu. Ayah dan bunda tak tega memisahkan mereka dari ibu,”kata Mas Hanung dingin.
“Bukan ibu yang harus merawatnya. Tapi kamu, Mas!” kataku setengah menjerit.
“Tak mungkin! Itu sama saja dengan membuatku terus-menerus dikenal sebagai suami seorang koruptor! Aku tak sudi!”

Aku tergagap. Tak sanggup lagi berkata-kata. Percuma juga mempertahankan ikata perkawinan yang telah jadi remahan.

Tanpa berpikir lagi, kutanda tangani surat cerai yang sejak tadi kubiarkan tergeletak di meja kayu di depanku. Hari ini, dengan mata dan telingaku sendiri kutemukan kebenaran itu. Lelaki yang tujuh tahun menikahiku dan selalu membanggakanku itu ternyata seorang bajingan. Ia menikmati kemudaan tubuhku, ia menggerogoti isi dompetku, ia mendorongku untuk melakukan apa saja untuk memperkaya keluarga besarnya. Dan, aku tergila-gila pada pemujaan palsunya. Demi cinta yang membutakan mata hatiku.
***

“Berhati-hatilah! Jangan mengambil yang bukan hakmu!” nasihat ibu suatu kali.

Ah ibu terlalu naïf. Dunia berputar terlalu cepat. Kejujuran akan membuat kita hancur. Kelicikan sekarang jadi kunci keberhasilan. Bertahan dengan kejujuran tidak saja akan membuatku tersingkir seperti beberapa kolegaku.

Bermula hanya dari permainan kecil, aku mendapat uang jasa. Dari hanya beberapa ratus ribu hingga milyaran rupiah. Bermodal infomasi tentang lelang  pengadaan barang atau jasa di kantorku, aku mendapat komisi. Lalu keberanian dan kepiawaianku bertambah. Dengan posisi yang kumiliki sebagai sekretaris kepala bidang, aku bisa leluasa mengakses informasi apa pun. Aku bahkan bisa memberikan bocoran pada rekanan yang bersedia memberi imbalan paling besar tentang berapa harga penawaran yang diajukan para pesaingnya. Terakhir, aku malah telah mendirikan perusahaan  bekerja sama dengan temanku. Tidak tanggung-tanggung. Aku memiliki empat buah perusahaan bidang konstruksi dan pabrikan alat-alat perkantoran. Dengan ke empat perusahaanku, aku lebih bisa bermain dengan lincah. Aku tidak lagi memenangkan perusahaan orang lain, tetapi aku mengangkangi hampir sebagian proyek-proyek di departemen tempatku bekerja. Tentu saja dengan memberikan imbalan yang memuaskan pada para pimpinan. Tahu sendiri bukan, tak ada yang gratis di dunia ini.

Kemewahan yang kudapat membuatku  benar-benar menjadi pahlawan bagi keluarga besarku. Aku mampu membuat mereka kembali bangkit dari kebangkrutan perusahaan keluarga mereka. Berkat aku, kini mereka dapat kembali bergaul dengan masyarakat kelas atas.

Sesungguhnya aku melakukannya semata-mata demi cinta. Bukan harta. Aku tidak dilahirkan dalam keluarga bergelimang harta. Almarhum bapakku hanya seorang  pensiunan pegawai negeri rendahan, ibuku seorang ibu rumah tangga biasa. Tetapi bapak dan ibu mendidikku dengan disiplin yang keras hingga aku bgerhasil meraih gelar sarjana dan mendapat pekerjaan yang mapan. Di tempat kerja itulah aku bertemu Mas Hanung. Saat itu ia ikut lelang pengadaan alat-alat perkantoran. Sayang, harga yang ditawarkan kalah dengan perusahaan lain meski kekalahannya sangat tipis. Lalu, krisis moneter membuat perusahaan keluarga Mas Hanung tak sanggup bertahan. Berkali-kali Mas Hanung menemuiku, memintaku membantunya agar mendapat satu atau dua saja pekerjaan dalam satu tahun anggaran.

“Setidaknya biar perusahaan kami bisa bertahan,” pinta Mas Hanung memelas.

Dari Mas Hanung aku belajar banyak bagaimana cara bermain cantik dan aman. Tak hanya bekerja sama, kedekatan
kami akhirnya menumbuhkan cinta. Tak butuh waktu lama, cukup dua bulan setelah jadian, Mas Hanung membawaku ke pelaminan. Hanya satu kata alasannya: cinta.

Awalnya keluarga besar Mas Hanung menolak kehadiranku karena aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berasal dari kelas atas seperti mereka. Demi mendapatkan cinta dan pengakuan dari keluarga Mas Hanung aku nekad melakukan semuanya. Cinta suamiku dan keluarga besarnya kuyakin akan menjadi kunci kebahagiaan dan keutuhan perkawinan kami.

Demi cinta, aku nekad melakukan semuanya. Tak peduli berkali-kali ibu mengingatkanku tentang dosa. Aku dibutakan oleh cinta. Cinta membuatku melakukan korupsi dan kolusi tanpa pernah ingat dosa. Nyatanya, ibu benar. Cinta yang kuagungkan itu jauh lebih menjijikkan dari seonggok tahi. Kini, mereka meludahiku. Meski, mereka tetap tidur nyenyak di atas ranjang yang dibeli dengan uang hasil keringatku.

Kesadaran itulah yang membuatku tadi siang dengan yakin menandatangani surat cerai itu. Tak ada lagi yang dapat kuharapkan dari Mas Hanung meski hanya ungkapan simpati. Surat cerai itu menjadi vonis pertama atas kesalahanku mengabaikan nasihat ibu.

Kini bukan soal perceraian itu yang membuatku gundah. Tapi nasib Bryan dan Annetta. Sanggupkah mereka bertahan hidup di bawah asuhan ibu yang semakin renta? Sanggupkah mereka menghadapi crmoohan masyarakat sepanjang hidupnya sebagai anak kandung seorang koruptor sepertiku?

Tiba-tiba aku sadar  telah sangat gagal menjadi ibu mereka. Tapi tidak, aku takkan menangis. Air mata tidak akan sanggup mengurangi penyesalanku.
***

Di hadapan hakim, di kursi terdakwa, tak ada lagi semangatku untuk membela diri. Pembelaan diri yang kulakukan takkan berhasil tanpa tipuan demi tipuan. Pembelaan itu hanya akan menambah tumpukan dosaku.

“Saya menarik semua kesaksian yang dibacakan Pembela saya, Bu Hakim.”
“Saudari Siskawati, Saudara sadar dengan pernyataan Saudari?”tanya hakim perempuan berambut sebahu itu dengan suara lantang.
“Ya. Saya sadar sesadar-sadarnya. Tanpa paksaan siapa pun,”jawabku mantap.

Beberapa saat ruangan sidang senyap. Hanya bisik-bisik hakim pemimpin sidang terdengar lirih.
“Sidang ditunda lima belas menit,” kata hakim memecah kesunyian.

Terdengar suara bisik-bisik.

Pembelaku menggamit tanganku dan menarikku ke ruang sebelah. Ia menutup pintu ruangan itu dengan keras.
“Ibu sadar apa yang telah ibu lakukan? Ini bisa membahayakan banyak pihak, Bu! Terlalu banyak yang akan kita pertaruhkan.”

Aku diam. Kupikir tak ada yang perlu diperdebatkan. Keputusanku sudah bulat. Akan kusampaikan kebenaran itu. Aku tak sanggup lagi membayangkan beban moral yang harus ditanggung kedua anakku. Bagaimana mereka sanggup menerima beban sebagai anak seorang koruptor sekaligus pembohong besar? Cukup sudah gelar koruptor ini membuat
anak-anakku kehilangan keceriaan masa kecilnya. Aku tak ingin mempermalukan diriku di hadapan Tuhan, Sang Khalik.

Biarlah vonis seberat-beratnya kuterima agar siksa neraka untukku nanti berkurang.
“Bos Besar menelpon, Bu. Pesannya, kedua anak ibu beserta neneknya ‘dalam perlindungan’ mereka,”kata pengacaraku sambil menekankan pengucapan frase “dalam perlindungan”.

Aku tahu artinya. Mereka mengancamku secara halus agar aku tak membongkar persekongkolan yang kami lakukan dalam pembangunan gedung pesta rakyat itu.

“Percayalah, Allah akan melindungi hamba-Nya yang berjalan di atas kebenaran,”kudengar bisikan ibu.

Maka, dengan mantap aku berkata.

“Keputusan saya sudah bulat.”
Wajah pengacaraku tiba-tiba basah oleh keringat meski kami kini berada di ruangan ber-AC.
“Tapi…”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, seorang petugas memberitahukan bahwa sidang akan segera dimulai lagi. Bergegas aku menuju ruang sidang tanpa memedulikan kecemasan dan ketakutan pengacaraku.
***

Seusai sidang, tiga orang petugas menggelandangku masuk ke mobil tahanan. Sebelum pintu mobil dikunci sari luar, seorang perempuan  yang kutahu salah seorang anak buah rekananku menyerahkan selembar kertas kecil, tanpa berkata apa-apa.

Begitu pintu di tutup dari luar, kubuka lipatan kertas kecil itu. Sebuah pesan rahasia, penuh ancaman tertera di sana.

Sikap angkuh hanya akan membuat seorang ibu putus asa!

Aku tidak tahu siapa pengirimnya. Tapi, aku sadar, pengakuanku atas semua kejahatan, kong kalingkong, dan kebusukan yang kulakukan bisa berarti bahaya bagi banyak orang. Kuyakin mereka semua takkan membiarkanku mengorek-orek aib mereka. Apalagi menyeret mereka menjadi pesakitan sepertiku kini.

Ya Tuhan, aku hanya sanggup menggumamkan nama-Nya. Tak ada lagi kesanggupanku memohon dan berdoa. Terlalu banyak dosa yang kulakukan demi meraih “cinta”. Dalam ketiadaberdayaan seperti ini wajah ibu yang teduh, senyumnya yang lembut terbayang.

“Bertahanlah! Sudah terlalu banyak kesalahan kau lakukan!” suara ibu kembali terngiang-ngiang.

Tiba-tiba mobil terhenti. Petugas yang duduk di samping sopir turun dan membuka pintu belakang.
“Bu, kita ke rumah ibu. Baru saja saya dapat telpon, ibunya Bu Siska sakit keras.”

Ya Tuhan, semoga tak terjadi apa-apa dengan ibu. Wajah tuanya yang makin renta kembali terbayang. Dan air matanya yang tak henti berderai ketika terakhir kali menjengukku serasa masih basah mengenai pipiku. Tuhan, kali ini aku bersungguh-sungguh, lindungi ibu. Semua ini salahku. Jangan kau biarkan orang-orang yang kucintai menanggung hukuman atas kesalahanku.

Mobil tahanan serasa berjalan teramat pelan. Beberapa kali aku berteriak pada sopir agar mempercepat laju mobil. Firasatku mengatakan sesuatu telah terjadi. Mereka, orang-orang yang merasa terancam dengan pengakuan jujurku pasti takkan diam. Dan ternyata benar. Di halaman rumah ibu, sebuah bendera putih bertanda palang hitam berkibar. Orang-orang sudah berkumpul untuk bertakziah.

Tak sabar, aku berlari masuk rumah.

“Ibu… ibu kenapa?”tanyaku pada Bu Lek Harti, tetanggaku yang sedang sibuk mengafani jasad ibu.
“Mbak Siska yang sabar ya. Tadi Anneta menemukan ibu tergantung di kamarnya.”
“Ibu… menggantung diri?”tanyaku tak percaya.
“Nenek malu … Nenek malu punya putri seorang koruptor!”teriak Anneta tiba-tiba menyadarkanku.
“Anne….,”aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.

Anneta menatapku tajam. Kurentangkan kedua tanganku untuk memeluk tubuh bocah cantik yang sangat kurindukan itu. Tetapi… Anneta menghindar.

“Anneta benci sama Ibu! Benci! Anne gak mau punya ibu koruptor! Ibu yang membuat nenek bunuh diri!”teriaknya sambil
terisak-isak.

Di antara kerumunan orang-orang yang semakin banyak berdatangan untuk takziah, aku terkubur dalam penyesalan yang dalam. Aku yakin, seperti keyakinanku akan besarnya cinta ibu yang tak tertandingi. Ibu tak mungkin bunuh diri. Dia perempuan tegar yang teguh iman. Ada tangan-tangan durjana yang sengaja menerorku. Mereka mengancamku dengan ancaman paling keji.

Dan kini, Anneta, putriku sendiri menjatuhkan vonis paling berat untukku. Kemarahannya, kebenciannya, dan penolakannya padaku jauh lebih mematikan dibandingkan vonis hakim yang besok akan dibacakan.

Di hadapan jasad ibu yang masih terasa hangat, kini aku hanya dapat menangis tersedu.

The end

VONIS

VONIS

1 Maret 2012 pukul 21:25
(Lama gak posting cerpen atau puisi. hari ini kubagikan cerpenku yang gak lolos dalam audisi bersama Perempuan Fiksi... dengan sedikit pembenahan)> Baca dan tinggalkan masukan ya....

Di hadapanku Mas Hanung duduk dengan wajah gelisah. Aku sudah dapat menebak berita apa yang hendak ia sampaikan padaku. Dadaku sesak. Beberapa saat kami hanya saling berdiam diri. Sipir tahanan yang berdiri tak jauh dari tempat kami duduk mengawasi kami dengan pandangan tajam . Kucoba menenangkan diri. Hasilnya aku malah terseret kegelisahannya.

Dinding-dinding ruang pengunjung yang terkelupas di sana sini, bangku-bangku kayu yang kusam memperkelam siang yang panas ini.

Akhirnya Mas Hanung menyerahkan beberapa lembar kertas padaku.

“Permohonanku dikabulkan. Tanda tangani saja,”katanya dengan suara dan wajah datar.

Kata-kata Mas Hanung meluncur begitu saja. Tak ada keraguan. Tatapannya dingin. Tak ada lagi pancaran sayang atau rindu di mata yang dahulu selalu menatapku penuh kekaguman itu. Oh, kemana hilangnya kelembutan dan kemesraan dalam suara laki-laki yang selama 7 tahun ini mendampingiku.

“Tidak bisakah Mas menundanya? Setidaknya hingga kasusku diputuskan?”
“Tidak! Aku tak sanggup mendengar cemoohan orang-orang, terutama keluargaku. Kamu tahu kan, bagaimana kerasnya sikap keluarga besarku.”

Aku tertunduk kelu. Sulit membayangkan keluarga Mas Hanung yang dahulu begitu baik dan menghormatiku kini berubah drastis. Dahulu aku adalah menantu kesayangan dan kebanggaan. Tiap ada permasalahan, aku menjadi rujukan pertama pemecahannya, terutama masalah finansial. Dalam setiap pertemuan keluarga, pesta, dan segala pamer kemewahan aku dijadikan teladan. Dipuja dan dihormati. Kini, jangankan menjengukku di rumah tahanan ini, mengakui aku sebagai bagian dari keluarga besar mereka pun mereka malu. Aku yang bertahun-tahun menjadi pahlawan ekonomi bagi keluarga besarnya, kini menjadi seonggok sampah yang mengotori nama baik keluarganya.

“Siska, mengertilah. Aku tak bisa menunggumu. Keluarga besarku mendesakku terus,”pintanya setengah mendesakku.
“Lalu anak-anak?”

Terbayang dua wajah bocah mungil yang malang. Entah bagaimana nasib Bryan, 5 tahun, dan kakaknya Annetta, 8 tahun itu kini. Terakhir kali aku bertemu mereka adalah saat ibuku membawa keduanya menjengukku saat masih ditahan di mapolda.  Mereka tampak kurus dan tak terurus. Mata mereka kuyu. Sama seperti mata ibuku. Kehilangan cahaya. Saat itu, seandainya harus membunuh seribu orang sekali pun, aku akan melakukannya bila aku dapat kembali memeluk kedua buah hatiku, mengembalikan binar bahagia di mata ibu.

“Biarkan mereka ikut ibu. Ayah dan bunda tak tega memisahkan mereka dari ibu,”kata Mas Hanung dingin.
“Bukan ibu yang harus merawatnya. Tapi kamu, Mas!” kataku setengah menjerit.
“Tak mungkin! Itu sama saja dengan membuatku terus-menerus dikenal sebagai suami seorang koruptor! Aku tak sudi!”

Aku tergagap. Tak sanggup lagi berkata-kata. Percuma juga mempertahankan ikata perkawinan yang telah jadi remahan.

Tanpa berpikir lagi, kutanda tangani surat cerai yang sejak tadi kubiarkan tergeletak di meja kayu di depanku. Hari ini, dengan mata dan telingaku sendiri kutemukan kebenaran itu. Lelaki yang tujuh tahun menikahiku dan selalu membanggakanku itu ternyata seorang bajingan. Ia menikmati kemudaan tubuhku, ia menggerogoti isi dompetku, ia mendorongku untuk melakukan apa saja untuk memperkaya keluarga besarnya. Dan, aku tergila-gila pada pemujaan palsunya. Demi cinta yang membutakan mata hatiku.
***

“Berhati-hatilah! Jangan mengambil yang bukan hakmu!” nasihat ibu suatu kali.

Ah ibu terlalu naïf. Dunia berputar terlalu cepat. Kejujuran akan membuat kita hancur. Kelicikan sekarang jadi kunci keberhasilan. Bertahan dengan kejujuran tidak saja akan membuatku tersingkir seperti beberapa kolegaku.

Bermula hanya dari permainan kecil, aku mendapat uang jasa. Dari hanya beberapa ratus ribu hingga milyaran rupiah. Bermodal infomasi tentang lelang  pengadaan barang atau jasa di kantorku, aku mendapat komisi. Lalu keberanian dan kepiawaianku bertambah. Dengan posisi yang kumiliki sebagai sekretaris kepala bidang, aku bisa leluasa mengakses informasi apa pun. Aku bahkan bisa memberikan bocoran pada rekanan yang bersedia memberi imbalan paling besar tentang berapa harga penawaran yang diajukan para pesaingnya. Terakhir, aku malah telah mendirikan perusahaan  bekerja sama dengan temanku. Tidak tanggung-tanggung. Aku memiliki empat buah perusahaan bidang konstruksi dan pabrikan alat-alat perkantoran. Dengan ke empat perusahaanku, aku lebih bisa bermain dengan lincah. Aku tidak lagi memenangkan perusahaan orang lain, tetapi aku mengangkangi hampir sebagian proyek-proyek di departemen tempatku bekerja. Tentu saja dengan memberikan imbalan yang memuaskan pada para pimpinan. Tahu sendiri bukan, tak ada yang gratis di dunia ini.

Kemewahan yang kudapat membuatku  benar-benar menjadi pahlawan bagi keluarga besarku. Aku mampu membuat mereka kembali bangkit dari kebangkrutan perusahaan keluarga mereka. Berkat aku, kini mereka dapat kembali bergaul dengan masyarakat kelas atas.

Sesungguhnya aku melakukannya semata-mata demi cinta. Bukan harta. Aku tidak dilahirkan dalam keluarga bergelimang harta. Almarhum bapakku hanya seorang  pensiunan pegawai negeri rendahan, ibuku seorang ibu rumah tangga biasa. Tetapi bapak dan ibu mendidikku dengan disiplin yang keras hingga aku bgerhasil meraih gelar sarjana dan mendapat pekerjaan yang mapan. Di tempat kerja itulah aku bertemu Mas Hanung. Saat itu ia ikut lelang pengadaan alat-alat perkantoran. Sayang, harga yang ditawarkan kalah dengan perusahaan lain meski kekalahannya sangat tipis. Lalu, krisis moneter membuat perusahaan keluarga Mas Hanung tak sanggup bertahan. Berkali-kali Mas Hanung menemuiku, memintaku membantunya agar mendapat satu atau dua saja pekerjaan dalam satu tahun anggaran.

“Setidaknya biar perusahaan kami bisa bertahan,” pinta Mas Hanung memelas.

Dari Mas Hanung aku belajar banyak bagaimana cara bermain cantik dan aman. Tak hanya bekerja sama, kedekatan
kami akhirnya menumbuhkan cinta. Tak butuh waktu lama, cukup dua bulan setelah jadian, Mas Hanung membawaku ke pelaminan. Hanya satu kata alasannya: cinta.

Awalnya keluarga besar Mas Hanung menolak kehadiranku karena aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berasal dari kelas atas seperti mereka. Demi mendapatkan cinta dan pengakuan dari keluarga Mas Hanung aku nekad melakukan semuanya. Cinta suamiku dan keluarga besarnya kuyakin akan menjadi kunci kebahagiaan dan keutuhan perkawinan kami.

Demi cinta, aku nekad melakukan semuanya. Tak peduli berkali-kali ibu mengingatkanku tentang dosa. Aku dibutakan oleh cinta. Cinta membuatku melakukan korupsi dan kolusi tanpa pernah ingat dosa. Nyatanya, ibu benar. Cinta yang kuagungkan itu jauh lebih menjijikkan dari seonggok tahi. Kini, mereka meludahiku. Meski, mereka tetap tidur nyenyak di atas ranjang yang dibeli dengan uang hasil keringatku.

Kesadaran itulah yang membuatku tadi siang dengan yakin menandatangani surat cerai itu. Tak ada lagi yang dapat kuharapkan dari Mas Hanung meski hanya ungkapan simpati. Surat cerai itu menjadi vonis pertama atas kesalahanku mengabaikan nasihat ibu.

Kini bukan soal perceraian itu yang membuatku gundah. Tapi nasib Bryan dan Annetta. Sanggupkah mereka bertahan hidup di bawah asuhan ibu yang semakin renta? Sanggupkah mereka menghadapi crmoohan masyarakat sepanjang hidupnya sebagai anak kandung seorang koruptor sepertiku?

Tiba-tiba aku sadar  telah sangat gagal menjadi ibu mereka. Tapi tidak, aku takkan menangis. Air mata tidak akan sanggup mengurangi penyesalanku.
***

Di hadapan hakim, di kursi terdakwa, tak ada lagi semangatku untuk membela diri. Pembelaan diri yang kulakukan takkan berhasil tanpa tipuan demi tipuan. Pembelaan itu hanya akan menambah tumpukan dosaku.

“Saya menarik semua kesaksian yang dibacakan Pembela saya, Bu Hakim.”
“Saudari Siskawati, Saudara sadar dengan pernyataan Saudari?”tanya hakim perempuan berambut sebahu itu dengan suara lantang.
“Ya. Saya sadar sesadar-sadarnya. Tanpa paksaan siapa pun,”jawabku mantap.

Beberapa saat ruangan sidang senyap. Hanya bisik-bisik hakim pemimpin sidang terdengar lirih.
“Sidang ditunda lima belas menit,” kata hakim memecah kesunyian.

Terdengar suara bisik-bisik.

Pembelaku menggamit tanganku dan menarikku ke ruang sebelah. Ia menutup pintu ruangan itu dengan keras.
“Ibu sadar apa yang telah ibu lakukan? Ini bisa membahayakan banyak pihak, Bu! Terlalu banyak yang akan kita pertaruhkan.”

Aku diam. Kupikir tak ada yang perlu diperdebatkan. Keputusanku sudah bulat. Akan kusampaikan kebenaran itu. Aku tak sanggup lagi membayangkan beban moral yang harus ditanggung kedua anakku. Bagaimana mereka sanggup menerima beban sebagai anak seorang koruptor sekaligus pembohong besar? Cukup sudah gelar koruptor ini membuat
anak-anakku kehilangan keceriaan masa kecilnya. Aku tak ingin mempermalukan diriku di hadapan Tuhan, Sang Khalik.

Biarlah vonis seberat-beratnya kuterima agar siksa neraka untukku nanti berkurang.
“Bos Besar menelpon, Bu. Pesannya, kedua anak ibu beserta neneknya ‘dalam perlindungan’ mereka,”kata pengacaraku sambil menekankan pengucapan frase “dalam perlindungan”.

Aku tahu artinya. Mereka mengancamku secara halus agar aku tak membongkar persekongkolan yang kami lakukan dalam pembangunan gedung pesta rakyat itu.

“Percayalah, Allah akan melindungi hamba-Nya yang berjalan di atas kebenaran,”kudengar bisikan ibu.

Maka, dengan mantap aku berkata.

“Keputusan saya sudah bulat.”
Wajah pengacaraku tiba-tiba basah oleh keringat meski kami kini berada di ruangan ber-AC.
“Tapi…”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, seorang petugas memberitahukan bahwa sidang akan segera dimulai lagi. Bergegas aku menuju ruang sidang tanpa memedulikan kecemasan dan ketakutan pengacaraku.
***

Seusai sidang, tiga orang petugas menggelandangku masuk ke mobil tahanan. Sebelum pintu mobil dikunci sari luar, seorang perempuan  yang kutahu salah seorang anak buah rekananku menyerahkan selembar kertas kecil, tanpa berkata apa-apa.

Begitu pintu di tutup dari luar, kubuka lipatan kertas kecil itu. Sebuah pesan rahasia, penuh ancaman tertera di sana.

Sikap angkuh hanya akan membuat seorang ibu putus asa!

Aku tidak tahu siapa pengirimnya. Tapi, aku sadar, pengakuanku atas semua kejahatan, kong kalingkong, dan kebusukan yang kulakukan bisa berarti bahaya bagi banyak orang. Kuyakin mereka semua takkan membiarkanku mengorek-orek aib mereka. Apalagi menyeret mereka menjadi pesakitan sepertiku kini.

Ya Tuhan, aku hanya sanggup menggumamkan nama-Nya. Tak ada lagi kesanggupanku memohon dan berdoa. Terlalu banyak dosa yang kulakukan demi meraih “cinta”. Dalam ketiadaberdayaan seperti ini wajah ibu yang teduh, senyumnya yang lembut terbayang.

“Bertahanlah! Sudah terlalu banyak kesalahan kau lakukan!” suara ibu kembali terngiang-ngiang.

Tiba-tiba mobil terhenti. Petugas yang duduk di samping sopir turun dan membuka pintu belakang.
“Bu, kita ke rumah ibu. Baru saja saya dapat telpon, ibunya Bu Siska sakit keras.”

Ya Tuhan, semoga tak terjadi apa-apa dengan ibu. Wajah tuanya yang makin renta kembali terbayang. Dan air matanya yang tak henti berderai ketika terakhir kali menjengukku serasa masih basah mengenai pipiku. Tuhan, kali ini aku bersungguh-sungguh, lindungi ibu. Semua ini salahku. Jangan kau biarkan orang-orang yang kucintai menanggung hukuman atas kesalahanku.

Mobil tahanan serasa berjalan teramat pelan. Beberapa kali aku berteriak pada sopir agar mempercepat laju mobil. Firasatku mengatakan sesuatu telah terjadi. Mereka, orang-orang yang merasa terancam dengan pengakuan jujurku pasti takkan diam. Dan ternyata benar. Di halaman rumah ibu, sebuah bendera putih bertanda palang hitam berkibar. Orang-orang sudah berkumpul untuk bertakziah.

Tak sabar, aku berlari masuk rumah.

“Ibu… ibu kenapa?”tanyaku pada Bu Lek Harti, tetanggaku yang sedang sibuk mengafani jasad ibu.
“Mbak Siska yang sabar ya. Tadi Anneta menemukan ibu tergantung di kamarnya.”
“Ibu… menggantung diri?”tanyaku tak percaya.
“Nenek malu … Nenek malu punya putri seorang koruptor!”teriak Anneta tiba-tiba menyadarkanku.
“Anne….,”aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.

Anneta menatapku tajam. Kurentangkan kedua tanganku untuk memeluk tubuh bocah cantik yang sangat kurindukan itu. Tetapi… Anneta menghindar.

“Anneta benci sama Ibu! Benci! Anne gak mau punya ibu koruptor! Ibu yang membuat nenek bunuh diri!”teriaknya sambil
terisak-isak.

Di antara kerumunan orang-orang yang semakin banyak berdatangan untuk takziah, aku terkubur dalam penyesalan yang dalam. Aku yakin, seperti keyakinanku akan besarnya cinta ibu yang tak tertandingi. Ibu tak mungkin bunuh diri. Dia perempuan tegar yang teguh iman. Ada tangan-tangan durjana yang sengaja menerorku. Mereka mengancamku dengan ancaman paling keji.

Dan kini, Anneta, putriku sendiri menjatuhkan vonis paling berat untukku. Kemarahannya, kebenciannya, dan penolakannya padaku jauh lebih mematikan dibandingkan vonis hakim yang besok akan dibacakan.

Di hadapan jasad ibu yang masih terasa hangat, kini aku hanya dapat menangis tersedu.

The end

YANG SALAH ADALAH PAHLAWAN (teknik menyikapi kesalahan jawaban/ tugas siswa)

ANG SALAH ADALAH PAHLAWAN 

Sebagai gurui bahasa Indonesia, sejak awal jadi guru tahun 1997, saya memilih bersikap frontal dan menolak teori yang bertentangan dengan keyakinan saya. Tetapi, karena "i m nothing" saya memilih langsung action. Penolakan saya terhadap psikologi pembelajaran yang pernah saya terima saat kuliah dulu yaitu bahwa saat anak menjawab salah, maka guru tidak boleh mengatakan salah. Harus dikomentari, bagus, hampir betul, atau kurang sempurna. 

Menurut saya, komentar seprti itu sama halnya mendidik anak untuk menjadi munafik. Salah ya salah. Benar ya benar. Sejak 5 tahun terakhir, saya memutuskan untuk mengusung slogan "Yang bersalah adalah pahlawan". Demikianlah, maka setiap kali memberi pertanyaan atau tugas, saya selalu katakan pada anak didik saya, "Haram hukumnya malu menjawab atau mempresentasikan tugas." Awalnya, tentu saja, sikap saya ini membuat anak didik saya di awal-awal saya ajar ketakutan. Lha piye? Mata gurunya lebar, suaranya lantang, kalau marah dikit wuaaaa menakutkan.

Demikianlah, saya mencoba menjelaskan maksud slogan saya dengan cara sederhana. Pada saat saya menunjuk salah seorang siswa untuk membacakan tugasnya (misal menulis), lalu seperti biasa umumnya anak-anak, begitu pekerjaan temannya dianggap salah, mereka akan menertawakan anak tersebut. 

Yang saya lakukan saat itu adalah membimbing siswa untuk menganalisis hasil kerja yang dipresentasikan tersebut. Setelah menemukan penyebab kesalahannya, kemudian saya ajukan pertanyaan. 
"Nah, sekarang, coba tukarkan tugasmu dengan teman sebangku. Apakah dalam pekerjaan kalian juga ada kesalahan yang sama?"

Biasanya di awal-awal pertemuan, anak-anak tidak ada yang mengaku. Sehingga saya biasanya memberi ancaman agak tegas.
"Hayo... jangan bohong! Ingat, kunci kesuksesan 100 orang sukses sedunia nomor 1 adalah JUJUR. Coba bayangkan, kalau kalian tidak mau jujur, mengakui bahwa kalian masih salah, masih belum menguasai materi ini, bagaimana Ibu bisa membantu kalian untuk memahami materi ini? Ayo... Tidak boleh malu. Angkat tangan yang kesalahannya sama dengan teman kaian tadi!" 

Alhamdulillah, biasanya dengan kalimat-kalimat yang isinya sama (tentu gak mungkin kan tiap tahun kalimat saya sama persis hehehe), anak-anak akan mengangkat tangan dan mengakui bahwa kesalahan tugas mereka sama dengan yang dibuat temannya yang presentasi. Saat itulah kemudian saya sampaikan pernyaataan. 
"Nah, coba renungkan. mengapa kalian menertawakan teman kalian sementara kalian pun membuat kesalahan yang sama?"

Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, menjadi lebih mudah bagi saya untuk menguatkan konsep "Yang salah adalah Pahlawan." Salah yang dimaksud di sini adalah salah mengerjakan tugas atau soal. Mengapa demikian? Kesalahan siswa dalam mengerjakan tugas biasanya bersifat general, biasanya beberapa orang atau bahkan bisa jadi lebih dari separoh siswa di kelas membuat kesalahan yang sama. 

Begitulah akhirnya setelah pembelajaran berlangsung dua bulan lebih anak-anak akan terbiasa mendengar komentar saya "Salah." Ketika ada siswa mempresentasikan tugasnya, kemudian diberi tanggapan. Kalau presentasi dan tanggapan mereka salah, pada saat saya memberi komentar, saya akan dengan tegas menyatakan "Salah!" 

Saya tidak ingin kelak ketika mereka dewasa nanti, apalagi saat menjadi pemimpin nanti mereka akan menjadi sosok yang "mudah meamklumi", menganggap hal yang salah sebagai "nbisa dimaafkan." Hal ini menurut saya tidak mendidik. Bagaimana pun salah itu ya salah. Jangan dikatakan hampir benar atau kurang sempurna. 

Bisa jadi kan seorang anak akan mengulang kesalahan yang sama (tidak hanya dalam ulangan atau mengerjakan tugas), tetapi dalam kehidupan nyata, karena kita pernah mendapat komentar " Bagus, cuma kurang sempurna." Padahal sejatinya tugas mereka itu beneran salah.

Demikianlah biasanya setelah memasuki bulan ketiga, anak didik saya bukannya menghindar untuk menjawab atau mempresentasikan tugasnya. Sebaliknya, mereka akan berebut mempresentaskan tugasnya. Mengapa? Setidaknya ada dua keuntungan yang akan didapatkannya. Pertama, mereka mendapat penghargaan sebagai pahlawan karena membantu saya mengetahui materi apa yang belum dikuasai. Berdasarkan kesalahan siswa inilah kemudian saya memberikan penjelasan ulang. Kedua, kepada mereka saya berikan reward, minimal untuk nilai afektif. 

Oh iya .... hehehe ternyata masih kurang. Yang ketiga, yang mempersentasikan tugas akan mendapat keuntungan karena tugasnya dianalisis bareng-bareng. Tidak hanya analisis dari teman-temannya, tetapi juga dari saya. Tentu saja ini memudahkan bagi mereka untuk merevisi tugasnya. 

Saya selalu ingat nasihat Pak Daniel Rasyid saat Konferensi Blogger Nasional di Unair tahun 2012 lalu. "Siswa boleh bersalah. Yang tidak boleh adalah berbuat dosa." 

Semoga menginspirasi. (Lagi ingin menulis).

Minggu, 17 November 2013

DARI BALIK KESUNYIAN

DARI BALIK KESUNYIAN
Dari sela-sela lubang dinding bambu kamarnya, Sri mencoba melihat keadaan di luar. Entah sudah berapa puluh purnama ia tak merasakan panas matahari dan hangat rembulan. Orang-orang yang ia cintai, termasuk Mak’e, Simbok, Kang Suraji, dan Yu Tinem tak mengizinkannya bebas keluar seperti dulu.
Sri mengigil ingat pertama kali saat Kang Suraji mengikat kedua kaki dan tangannya dengan tali tambang, yang biasa dipakai menarik sapi. Tak ada kemampuannya untuk menolak perlakuan kasar Kang Suraji, tak ada kata-kata yang sanggup ia ucapkan saat itu. Hanya air mata dan sorot mata kepedihan  yang mampu ia sampaikan. Sri melihat Simbok bolak-balik mengusap air matanya dengan ujung kain panjangnya yang lusuh. Mak’e seperti biasa hanya mampu tergugu. Sri menjerit kesakitan.Teriakan Sri bukannya menumbuhkan rasa kasihan Kang Suraji. Ia malah mendapat tamparan dari Suraji dan Tinem.
Kemana hati Si Mbok saat melihat Sri dihajar Suraji dan Tinem? Kemana rasa sayang Mak’e? Sri hanya mampu menangis.
 ***
Bayangan wajah Paijan yang tampan masih suka mendatangi mimpi-mimpi Sri.  Paijan yang kulit punggungnya hitam terpanggang panas matahari. Paijan lelaki bertubuh gempal yang membuat hati Sri kebat-kebit setiap hari.
Sri suka diam-diam  kabur dari rumah, lalu bersembunyi di balik belukar dekat sawah tempat  Paijan bekerja. Ia tak berani pamit pada keluarganya. Bisa marah besar Kang Suraji bila tahu Sri keluar dari rumah. Yu Tinem bisa mengata-ngatai dirinya sebagai sundal, "gatel", atau  kata-kata kasar lainnya yang tak mampu dimaknai sesungguhnya oleh Sri.
Sri sudah remaja. Ia butuh teman, bahkan sudah mulai merindukan sosok lelaki tampan dalam mimpi-mimpinya. Ia sudah lama dapat tamu bulanan. Beberapa teman gadisnya sudah punya pacar bahkan telah menikah dan punya anak. Wajah Sri tidak terlalu cantik, tapi juga tidak terlalu jelek. Tapi Sri punya mata bening yang indah. Sinar matanya yang selalu hangat dan bersahabat membuat banyak orang sayang  dan suka padanya.
Sri tak pernah tahu mengapa keluarganya melarangnya bermain keluar? Bukankah  ia tak pernah membuat onar? Sri bahkan merasa semua orang di desanya sayang padanya. Buktinya, seringkali mereka memberi Sri singkong, ketela, pisang entah direbus atau dibakar bila suatu kali Sri lewat dekat rumah mereka. Mereka pun akan dengan senang meminta Sri untuk singgah lalu bercanda-canda bersama.
***
Diam-diam Sri suka mengintip Paijan saat bekerja di sawah.Hingga suatu saat tak sengaja  kebiasaannya mengintip dipergoki Paijan. Masih hangat pipi Sri bila ingat kejadian siang itu. Udara tidak seperti biasanya, terlalu panas menyengat. Sri berkali-kali harus mengusap keringatnya yang berleleran. Rumput-rumput di antara semak-semak tempatnya bersembunyi mengintip Paijan sesekali mengirim rasa gatal di kulit tubuh. Rasa gatalnya menjadi pedih saat bertemu dengan keringat yang hampir membasahi semua tubuhnya. Sri tersenyum menatap Paijan yang melepas kaos bututnya dan duduk bertelanjang dada di pinggiran petak sawah.
Keringat jelas membasahi seluruh wajah, punggung, dan dada  Paijan. Hm.. andai suatu saat aku bisa memijat punggungmu yang kukuh itu, alangkah bahagianya aku, Sri bergumam sendiri sambil memejamkan mata. Alangkah bahagianya bila suatu saat ia bisa berada di pelukan lelaki yang sangat dikaguminya itu.
Sri larut dalam impiannya. Ia tak mendengar bahkan tak melihat saat Paijan turun ke sungai, melepas semua bajunya. Hawa yang sangat panas membuat  Paijan ingin membuang semua gerah dalam bening sungai yang terletak tepat di depan Sri bersembunyi.
Sri masih larut dalam impiannya, memijat punggung Paijan sambil membalurkan param kocok ke kaki  yang berotot itu. Seekor semut menggigit betisnya, ia tersadar.
“Aaaaaaargh!” Sri tak mampu menahan jeritannya saat melihat Paijan telanjang bulat di hadapannya.
Paijan pun tak kalah kagetnya.
“Sri…. Apa yang Kau lakukan di sini?”
Sri tak mampu berkata-kata. Ia hanya menunduk malu. Pipinya bersemu merah. Tangannya mendadak dingin, pandangannya berkunang-kunang.
Paijan sadar ada yang tak beres dengan diri Sri. Dengan sigap direngkuhnya tubuh Sri. Tubuh yang lemah itu kini benar-benar berada di dada Paijan yang telanjang. Untung saat Sri menjerit tadi, Paijan sigap memakai celananya. Sri tak jadi pingsan, namun ia tetap memejamkan matanya. Menikmati impiannya yang demikian cepat menjadi nyata. Berada di pelukan Paijan.
“Sri… kamu gak papa kan? Sri…. Sri….”, Paijan menepuk-nepuk pipi Sri dengan kalut.
Paijan mengenal Sri sejak kecil, ia juga mengenal kedua kakak Sri. Suraji, dan Tinem. Bahkan, dulu sebelum Tinem menikah dengan Hadi, teman-temannya sering menjodoh-jodohkannya dengan Tinem. Paijan tak berani melangkah. Ia jerih melihat sorot mata galak  Tinem, ia juga keder mendengar suara Tinem yang menggelegar, terutama saat mengumpat Sri.
Ah Sri, betapa malang nasibmu, keluh Paijan sambil menatap wajah Sri yang masih pias. Paijan baru menyadari ternyata Sri manis juga. Pipinya yang merona merah saat malu tadi, alangkah indahnya. Bening matanya yang ketakutan tadi, duh sungguh menyimpan kejujuran. Bening seperti air sungai di depannya yang mengalir tenang. Seperti nafas Sri yang mulai tenang.
Sri membuka matanya. Ia tersenyum malu, namun sorot matanya jelas mengirim permohonan maaf yang tulus. Paijan bisa memahami isyarat mata Sri sebab ia telah lama mengenal Sri.
“Gak papa Sri, kita pulang, ya… Nanti Kamu dimarahi Kang Suraji dan Yu Tinem.”  lembut.
Paijan sadar ada binar lain di mata Sri. Digenggamnya tangan Sri sepanjang perjalanan melewati kebun milik Pak Haji Rahman, tuan tanah di desanya, yang juga pemilik sawah yang sekarang sedang ia garap. Ingin sekali Paijan memetik satu butir saja kelapa muda dan menghadiahkan untuk Sri. Jantung Paijan berdesir. Mengapa baru sekarang ia sadar betapa cantik dan  menariknya Sri yang lugu dan jujur ini. Sri sungguh berbeda dengan Tinem yang suaranya membuat telinga panas. Pandangan mata Sri yang polos, benar-benar beda dengan pandangan mata Tinem yang culas, atau perempuan-perempuan lainnya yang selalu ingin tahu rahasia tetangganya.
“Sri,….”, Paijan tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Ia menatap mata Sri dalam-dalam. Sri tertegun, tak mengira Paijan bakal menatapnya demikian rupa.Pandangan Paijan demikian hangat dan lembut, menyusup sampai ke hatinya. Sri tersenyum dan menundukkan mukanya.
Tak tahan Paijan menahan hasratnya, dengan  lembut ia cium pipi Sri dalam-dalam. Sri tak menduga Paijan  nekad  melakukannya. Sri juga menginginkannya. Ia membiarkan Paijan merengkuh lagi tubuhnya. Kali ini, keduanya sama-sama menikmatinya. Tanpa kata-kata. Hanya suara gemerisik daun-daun bambu berselang-seling dengan jerit batang bambu yang bergesekan. Sesekali terdengar juga jerit ular yang sedang menelan katak, mangsa kegemarannya.
Kesunyian dan kebahagiaan meliputi hati keduanya. Mereka tak menyadari ada beberapa pasang mata melihat kemesraan mereka. Orang-orang yang tadinya hendak melewati jalan yang sama dilewati Paijan dan Sri akhirnya memilih jalan  memutar. Mereka tak ingin mengganggu kemesraan dua anak manusia itu. Mereka rela tubuhnya digigit nyamuk yang tak henti mendenging hanya untuk mengintip dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta.
***
Tak ada bangkai yang tak tercium baunya meski ditutup seribu lembar kain, tak ada bunga mekar yang tak menebar wanginya. Begitulah kemesraan Paijan dan Sri dengan cepat menyebar kemana-mana. Setiap telinga dan mulut orang sedesa disibukkan dengan berita percintaan Paijan dan Sri.
Tak ada gosip tanpa bumbu penyedap. Bukan gosip namanya bila tak dilebih-lebihkan. Demikian pula dengan kemesraan Paijan dan Sri. Dari mulut ke mulut tersebar cerita, keduanya tak hanya berpelukan saja di kebun kelapa Haji Rahman. Keduanya telah bertindak berlebihan. Berbuat asusila.
Haji Rahman  marah besar. Ia tak rela kebunnya dipakai berbuat nista. Tak hanya aib baginya, tapi bisa mengurangi jumlah dan berkah rejekinya. Apalagi Paijan juga menjadi buruh tetap di sawahnya. Hari itu juga, Haji Rahman mendamprat Paijan dan menutup semua pintu bagi Paijan untuk mendapat pekerjaan di ladang atau  sawahnya. Paijan gemetaran. Ia bersumpah di hadapan emaknya dan di hadapan Haji Rahman bahwa ia hanya mencium dan memeluk Sri, tak lebih.
Sayang, tak ada yang percaya. Termasuk emaknya.
“Emak malu….! Kamu telah mencoreng aib di wajah emak. Bila tahu begini jadinya, lebih baik dulu kubiarkan Engkau mati saja saat bapakmu pergi meninggalkan Emak dengan "lonthe" murahan itu,” emak menjawab penjelasan Paijan dengan penuh kemarahan.
Kebencian dan dendam emak pada Bapak ditumpahkan pada Paijan. Hari itu juga Paijan pergi setelah emak mengancam akan bunuh diri, “ngendhat”, menggantung tubuh dengan tali pengekang sapi bila Paijan tak minggat dari rumahnya.
Paijan pergi dengan hati luka. Luka sebab tak ada yang mempercayai pembelaannya, luka sebab emak sekarang membencinya. Ia meninggalkan Sri yang telah merebut hatinya. Meninggalkan Sri menanggung aib yang disebarkan mulut usil tetangganya.
Paijan hanya mampu berdoa Sri akan sanggup menanggung semuanya. Paijan menatap langit, mengirim sejumlah doa pada Tuhan yang ia yakini ada di atas sana.
“Gusti, titip Emak dan Sri. Mohon ampun, Gusti….” 
Sejak itu tak ada kabar berita tentang Paijan. Sri seperti gila mencari Paijan di setiap sudut desa. Orang-orang sering melihatnya terduduk di pematang sawah, di pinggir kali, di kebun kelapa Haji Rahman. Sri terduduk, menangis tersedu…. Tubuhnya makin kurus dari hari ke hari. Cahaya matanya yang bening tak nampak lagi. Keruh oleh air mata yang semakin hari semakin mengekalkan kerinduannya pada Paijan.
Orang-orang semakin yakin Sri telah ternoda. Tak mungkin demikian dalam derita seorang gadis ditinggal seorang pemuda bila ia belum ternoda, begitu kepercayaan orang-orang desa.
Suraji, Tinem, emak, dan mbok'e  mendengar semuanya. Malu sekali mereka harus menanggung aib besar itu. Sayang, mereka tak bisa menemukan Paijan untuk memintanya bertanggung jawab. Mereka meminta penjelasan Sri, apa yang telah ia lakukan bersama Paijan. Apa benar Paijan telah menodainya?
Tapi Sri tak pernah mengerti semua pertanyaan itu. Ia tak mampu menjawabnya.Suraji dan Tinem kalap melihat Sri yang hanya bisa mengucurkan air mata. Suraji menampar wajah Sri berkali-kali, Tinem menyiramkan air ke wajah Sri. Emak menangis, mak’e terduduk diam di sudut kamar.
Sri merasa hanya Paijan satu-satunya orang yang memahami perasaannya. Sri tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Ia marah entah pada siapa. Ia ambil semua barang yang ada dalam rumah, ia lemparkan semua.
Delapan buah piring milik keluarga dan empat gelas kaca hancur berkeping, tak bersisa. Sri mengamuk sambil menjerit-jerit. Ia berlari di antara deras hujan sore itu. Di antara petir dan guruh, ia berteriak pada Tuhan,
“Tuhan…. Tunjukkan padaku, dimana Kang Paijan, atau matikanlah aku. Biar tamat deritaku.”
Hujan deras dan gemuruh yang bersahutan seperti menelan jerit Sri. Tak ada yang mendengarnya.
Sejak itu, Sri sering mengamuk tanpa sebab. Barang-barang di rumah yang jumlahnya sangat terbatas hancur ia lempar. Anak-anak Suraji dan Tinem ketakutan. Pada Suraji ia berani melawan saat ditampar. Tinem sering bereringat dingin bila tiba-tiba Sri memungut sebuah batu dan melempar ke wajahnya. Puncaknya, Sri melempar wajah seorang tamu, Kang  Sulis,  yang dulu pernah berkelahi dengan  Paijan. Sri benci sekali melihat wajah Sulis.
Hari itu juga, Suraji dan Tinem, tanpa persetujuan kedua orang tuanya mengikat dan mengurung Sri di biliknya hingga sekarang.
Bilik pengap itu tempat Sri makan, tidur, kencing, dan berak. Sendirian ia menghabiskan hari-hari yang selalu  malam baginya. Tanpa kepastian apakah ia akan bisa bangkit hidup lagi, atau mati benar-benar. Hidupnya hanya untuk menanti hari benar-benar malam atau saat ia benar-benar kekelahan, saat ia bisa tertidur tenang, dan bertemu dengan Paijan dalam mimpinya. Paijan yang dirindukannya.
Dalam kesunyian hidupnya tanpa kata-kata, tanpa suara, ia simpan rindu dan duka hatinya. Sungguh, bila ia mampu ingin ia ceritakan pada dunia, betapa ia mencintai Paijan.
Apakah salah? Apakah dosa? Apakah tak ada hak baginya, perempuan bisu tuli, untuk mencintai?
Di biliknya yang sunyi, hanya dengan bisul bernanah, ia habiskan hari-harinya. Menanti Paijan datang, meski hanya dalam mimpi.
Note:
mak’e (Jw) = bapak
mbok  (Jw) = ibu
ngendhat: bunuh diri dengan cara menggantung diri memakai tali.
gatel    : berada dalam puncak birahi

lonthe= pelacur

DI POJOK JALAN ITU AKU MENUNGGUMU

DI POJOK JALAN KOTA ITU AKU MENUNGGUMU
(DImuat di Malang Pos, tapi lupa tanggalnya, tahun lalu)
Sebuah pesan singkat masuk ke HP-ku tepat saat dosen Termodinamika yang berwajah jutek itu mengucapkan salam, tanda perkuliahan hari ini selesai.
Aku ke kotamu hari ini. Bila kau bisa, temui aku di rumah makan Ayam Goreng Jawa pojokan Rampal  jam 4 sore.
 Gila. Kamu baru menghubungiku dua minggu yang lalu setelah kita memutuskan berpisah 4 tahun yang lalu. Tiba-tiba kau memintaku untuk menemuimu.
 Tak bisa, aku ada kuliah sampai jam 5, balasku.
 Mungkin kau marah dengan SMS balasanku hingga kau menelponku.
 "Apa an?"tanyaku langsung jutek.
 Kita memang pernah berpacaran hampir dua tahun. Selama itu pula, ada satu hal yang selalu kuingat.  Setiap kali bertemu denganmu, berbincang denganmu, menerima telepon darimu aku selalu ingin marah-marah padamu. Namun, bila tak ada SMS dan telpon darimu sehari saja, aku pun bisa uring-uringan.
"Beneran gak mau ketemu?" tanyamu menyadarkanku dari lamunan.
"Emang penting banget menemuimu?"balasku tanpa menjawab pertayaannya.
"Gak nyesel nich?"
 Aku terdiam. Kesal.
Kenapa sich kamu gak pernah membiarkanku mendengar kalimatmu yang manis dan lembut seperti umumnya seorang cowok yang sedang naksir seorang cewek. Aneh! Bisa jadi kamu tuh lagi gak waras. Katanya sayang, cinta, rindu, tapi tiap kalimat yang kau ucapkan selalu membuatku sebal. Bete banget!
 "Fian," suaramu memotong lamunanku.
"Apaan?" entah kenapa kini suaraku jadi lebih lunak.
"Kalau kamu mau, aku bisa minta sopirku menjemputmu saat lunch nanti. Mau ya?"
 Oho... lunch dengan cowok jangkung dan tampan? Sebuah tawaran yang menggiurkan.
 "Gak ah!"jawabku akhirnya.
"Beneran?"
"Iyaaaaaaa!"
Klik, kumatikan HP-ku. Aku tak mau tergoda tawarannya. Aku yakin kalaupun aku menemuinya, hal yang pasti aku terima darimu adalah ledekan-ledekanmu yang bikin aku bete, sebel, dan pengin marah. Kenapa sich tak kau biarkan kudengar kalimat-kalimat romantis seperti yang kubayangkan dalam puisi-puisi cintaku.
 ****
Jarum jam di tanganku menunjuk angka 12 lebih lima. SMS-mu lima menit lalu mengatakan kau akan berada di rumah makan ayam bakar Jawa di pojok jalan dekat Dodikjur di Rampal. Katamu kau sedang memberi materi pelatihan kepemimpinan untuk para perwira di sana hingga pukul 13.00. Ya, aku yakin kau memang layak mendapatkan kepercayaan seperti itu. Kau sudah kuliah semester 7 dan aku masih duduk di kelas 3 SMA saat kita memutuskan berpisah. Seperti apakah kini engkau?
 Tiba-tiba rasa rindu menyeruak di dadaku, mengalahkan segala rasa sebal yang tadi sempat muncul. Ya… tak bisa kupungkiri. Aku belum bisa melupakanmu. Takmampu menggantikan posisimu di hatiku dengan yang lain. Yang juga pasti, ternyata rasa sebal dan rinduku padamu masih sama persis seperti 4 tahun lalu. Kau memang tampan, tubuhmu atletis, pandai, jago basket dan debat bahasa Inggris. Tapi kau juga narsis dan suka memamerkan prestasimu padaku. Dan itulah yang membuatku sebal padamu.
Kulihat arloji di tanganku. Kalau aku ke Rampal naik motor, mungkin cukup sepuluh menit. Namun langit mendung seperti mengantung ribuan galon air yang bisa saja tumpah sewaktu-waktu.
 Tanpa pikir panjang kutekan no telepon di HP-ku. 71-71-71.
 Begitu taksi datang, aku langsung meminta sopir mengantarkanku ke rumah makan yang kau maksud. Sengaja tak kuberitahu engkau bahwa aku akan datang menemuimu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, aku ingin memberi kejutan padamu. Kedua, bila pada akhirnya aku tak yakin bahwa kau tak akan membuatku bete dan marah-marah, aku akan langsung kabur dan tak jadi menemuimu. Ini lebih aman bagiku. 
 ****
Lima menit berdiri di pojok jalan ini belum juga kulihat kau masuk atau keluar dari rumah makan itu. Sepuluh menit, lima belas menit, hingga satu jam, belum juga kutemukan wajahmu di antara lalu lalang orang yang keluar masuk ke rumah makan itu.
 Aku mengutuki diriku sendiri yang nyaris mirip orang gila yang kebetulan berdiri tak jauh dariku. Apa bedanya aku dengan dia? Sama-sama terdampar di pinggir jalan saat hari mulai gerimis. Bedanya, orang gila itu menikmati keterdamparannya dengan riang, ia tertawa-tawa sambil sesekali melempari para pejalan kaki dengan kerikil-kerikil kecil yang ada di dekatnya. Sedang aku? Oh... aku berdiri di sini dengan ribuan kutukan pada diri sendiri dan padamu. Aku mengutuki diriku sendiri yang sampai gila nekad hendak menemuimu meski tak jelas kapan kau akan datang ke rumah makan itu. Aku pun menggunakan kerikil-kerikil yang banyak terdapat di dekat tempatku berdiri. Tapi, aku tak memungutinya. Aku menendangnya sejauh mungkin  ke arah lapangan Rampal yang letaknya hanya beberapa meter dari tempatku berdiri.
 "Mbak... Mbak, lagi nunggu siapa?" seorang ibu-ibu berseragam coklat keki menegurku.
Aku menggeleng.
Ya ampuun, malu sekali rasanya. Aku berlari ke teras rumah makan ayam goreng Jawa yang sejak tadi kuawasi. Kuambil cermin kecil yang biasa kubawa kemana-mana di dalam tas. Kupandangi bayangan wajahku dalam cermin itu. Lelah, mengantuk,dan menahan kemarahan.
 Ya Tuhan, benar-benar memelas penampilanku. Nyaris seperti tikus got yang kejebur air. Rambutku acak-acakan, bibirku pias, dan pipiku terasa dingin.
 "Apa yang kau cari di sini Fian," pekikku dalam hati, mengutuki diriku sendiri.
Hujan makin deras. Aku tak berani nekad pulang. Petir dan guruh bersahut-sahutan. Biasanya jalan-jalan akan banjir dan macet. Tak jarang dahan bahkan batang pohon bertumbangan di jalan-jalan. Lengkap sudah penderitaanku kini. Tak berhasil menemuimu, basah kuyup, menggigil kedinginan, dan penampilan amburadul tak karuwan. Gigi ku pun gemeletuk menahan dingin yang sangat.
 "Kamu dimana?" suaramu dari HP terdengar biasa saja.
 Aku sebal banget mendengar suaramu yang sangat tak peduli dengan kemelasan yang kualami saat ini.
 "Di dekat tempatmu seminar,"jawabku tak mampu menyembunyikan gigilku.
 "Kau sakit?"
 Aku menggeleng. Saat sadar akan kebodohanku aku mengutuki sikapku. Pasti dia tak tahu meski aku mengangguk hingga bungkuk sekalian.
 "Kau selesai jam berapa?"tanyaku.
 "Jam 4. Kenapa? Mau menemuiku? Aku nanti akan ke rumah makan kesukaanmu dua tahun lalu. Ingat kan? Rumah makan Oen?"
 "Ya." kugigit bibirku kuat-kuat, menahan kerinduan yang sampai di ubun-ubunku.
Ternyata telah hampir 4 tahun kusekaprinduku padamu.
 "Kalau kau mau, aku tunggu di sana, ntar kita cari novel terbaru," bujuknya.
 Ya Tuhan... bahkan kau pun masih ingat betapa aku sangat hobi membeli, mengoleksi, dan membaca novel. Hm...
Sebuah taksi lewat dan kuminta membawaku kembali ke kampus. Ada kuliah Matriks. Mata kuliah paling kubenci.
 ****
Masih tak kuberitahukan padamu bahwa akhirnya aku memilih untuk kabur dari mata kuliah Matrik yang menjemukan, dan memilih untuk sembunyi di pojok jalan pusat kota Malang demi untuk menemuimu. Inikah salah satu bukti bahwa cinta itu buta?  Baru saja aku tiba ke kampus setelah gagal menemuimu, sekarang aku melarikan diri lagi dari kampus juga untuk menemuimu.
Kupilih menunggumu di pojok jalan, dekat tukang kios majalah sambilmembaca-baca dan membeli sebuah majalah wanita. Kurasa kau akan mengubah penilaianmu padaku begitu kau melihat bacaanku kini sudah beralih ke bacaan orang dewasa. Ya, aku tak lagi kanak-kanak seperti pendapatmu dulu.
 Jam di tanganku sudah menunjuk ke angka enam. Kau belum muncul. Jangan-jangan tadi saat aku salat maghrib di Masjid Jami' kau masuk ke rumah makan Oen sebentar kemudian langsung balik ke kotamu.
 Hujan kembali menderas. Aku makin memelas. Haruskah aku menelponmu dan mengatakan padamu bahwa aku hampir membeku menunggumu di pojok jalan kota ini? Haruskah? Itu berarti aku memberimu kesempatan yang kesekian kalinya untuk meledekku. Terbayang senyum puasmu saat melihat penampilanku yang memilukan.
 Dimana Fian yang ceria? Dimana senyum Fian yang selalu mengembang itu? Oh, tragis. Tak ada yang tersisa di wajahku kecuali kemelasan sampai titik paling dasar. Apa yang terjadi padaku?
Jam tujuh malam, kau belum juga muncul. Akhirnya kuputuskan menelponmu.
"Kau dimana? Masih di Malang?" tanyaku langsung saat kau angkat teleponku.
 "Aku sedang karaoke di Fun Karaoke, sama teman-teman," jawabmu tanpa nada bersalah.
 Whaaaaat??? Berjam-jam aku setia menungguimu di pojok jalan di kotaku, di antara gerimis juga deras hujan, diringi guruh yang berlomba dengan petir, dengan tubuh menggigil; kau malah enak-enakan karaoke.
 "Aku di depan rumah makan Oen,"kataku.
 "Kau ke sini saja," jawabmu dingin.
 Tuhaaan! Betapa aku ingin mendengar tawaranmu mengirim sopir dan menjemputku. Air mataku luruh. Lebih deras dari hujan yang mulai reda. Tapi gemuruh di dadaku jauh lebih keras dibanding guruh di angkasa.
 Aku tahu tak mungkin menemuimu dengan baju basah kuyup seperti ini. Kau pasti akan makin meledekku. Bahkan mungkin kau akan memarahiku karena malu dengan penampilanku. Bergegas aku menyeberang jalan ke Sarinah Plaza. Kuputuskan memilih sebuah gaun malam yang cantik yang matching dengan sepatu dan tasku.
 Dengan bedak tipis dan lipstik yang juga tipis serta gaun malam masih berbau toko, kuputuskan berjalan ke Fun Karaoke. Hanya 400 meter dari tempatku berdiri sekarang ini.
 Di Fun Karaoke tak kutemukan engkau. Kutanyakan pada resepsionis katanya baru sepuluh menit yang lalu kau dan teman-temanmu meninggalkan tempat itu. Itu berarti tepat saat kuusapkan lipstik merah jambu ke bibir bawahku di toilet Sarinah Plaza.
 Kutekan nomor HP-mu.
 "Haloo....," suaraku gemetar.
 "Ya…. Kau dimana? Kenapa tak jadi datang?" tanyanmu tanpa menyembunyikan rasa kecewa.
 Lebih baik tak kujawab.
 "Kau sendiri dimana sekarang?"
 "Aku sudah sampai Arjosari. Perjalanan pulang. Pesawatku landing jam 1 dini hari nanti," jawabmu tanpa salah.
 Tuhaaaaan.... Aku tak sanggup berkata-kata. Tak kujawab teriakan-teriakanmu memanggil-manggil namaku.
Pandanganku buram ke arah pojok jalan tempatku hampir 3 jam berdiri menunggumu. Kulihat bayanganku terkapar di sana. Di antara genangan air hujan yang bercampur dengan air mataku.

Aku semakin yakin bahwa aku membencimu. Aku sebal padamu!!